May 23, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Allah Memberi Peringatan Keras pada Orang yang Mampu Tapi Tidak Berkurban

2 min read

JAKARTA – Bagi mereka yang benar-benar belum mampu secara ekonomi dan finansial, Islam memang tidak mengajarkan untuk memaksakan diri berkurban. Agama ini tidak dibangun di atas keterpaksaan yang memberatkan kehidupan hamba-Nya.

Namun, berbeda halnya bagi orang yang telah diberikan kelapangan rezeki, tetapi tidak lagi memiliki keinginan untuk berkurban. Dalam konteks inilah kita perlu merenungkan pesan halus namun sangat mendalam dari Baginda Rasulullah saw.: “Barang siapa yang memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”

مْن َكاَن َلُه َسَعٌة َوَلْم ُيَضِّح، َفَاَل َيْقَرَبَّن ُمَصاَّلَنا

Hadis ini tentu bukan untuk menakut-nakuti umat Islam, apalagi untuk menghakimi seseorang secara kasar. Akan tetapi, Rasulullah saw. sedang mengingatkan bahwa kurban bukan sekadar urusan ritual tahunan di bulan haji, melainkan simbol rasa syukur, kepedulian sosial, dan loyalitas spiritual seorang hamba kepada Allah Swt.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar tentang membeli kambing atau sapi. Persoalan sesungguhnya adalah tentang rasa syukur, kepekaan hati, dan hubungan spiritual manusia dengan nikmat yang telah Allah titipkan kepadanya.

Hari ini, kita hidup di zaman yang sering menghadirkan paradoks kehidupan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya mampu secara ekonomi, tetapi merasa sangat berat untuk berkurban. Anehnya, pada saat yang sama, mereka tidak merasa berat mengeluarkan uang untuk gaya hidup, hiburan, atau simbol-simbol prestise sosial.

Kadang, kita begitu mudah menghabiskan jutaan rupiah untuk hal-hal yang bersifat kesenangan sesaat, tetapi terasa berat ketika diminta mengorbankan sebagian harta untuk ibadah dan kepedulian sosial. Di situlah kurban sesungguhnya sedang menguji hati kita.

Sekali lagi, kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan. Kurban adalah pendidikan jiwa agar manusia tidak diperbudak oleh cintanya kepada dunia. Kurban melatih manusia agar tetap memiliki empati sosial, keikhlasan berbagi, dan keberanian mengorbankan sebagian yang dicintainya di jalan Allah.

Yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau daging hewan yang kita kurbankan, melainkan ketakwaan kita.

Artinya, yang sedang dinilai bukan sekadar besar kecilnya hewan kurban, tetapi sejauh mana hati kita masih hidup bersama nilai-nilai pengorbanan dan rasa syukur. Karena itu, seseorang yang diberi kelapangan rezeki tetapi bertahun-tahun tidak pernah tergerak untuk berkurban sesungguhnya perlu bermuhasabah. Jangan-jangan yang mulai mengeras bukan kondisi ekonominya, melainkan kepekaan spiritual dalam hatinya.

Namun, dakwah tentang kurban tentu harus tetap disampaikan dengan hikmah dan kelembutan. Bukan untuk mempermalukan orang kaya. Bukan pula untuk menghakimi mereka yang belum berkurban. Akan tetapi, untuk mengajak setiap Muslim merenung: jika Allah telah memberikan banyak kenikmatan hidup, sejauh mana kita bersedia berbagi dan berkorban di jalan-Nya?

Pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang kemampuan membeli hewan, tetapi tentang kemampuan hati untuk tetap tunduk, bersyukur, dan peduli kepada sesama. Inilah makna takwa yang diharapkan dalam syariat kurban.  []

Penulis :  Ulul Albab; Akademisi Unitomo Surabaya; Ketua ICMI Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply