Kematian dalam Pandangan Al-Qur’an
3 min read
JAKARTA – Ada saat ketika manusia begitu sibuk menjalani hidup hingga lupa bahwa hidup itu sendiri sedang bergerak menuju akhir. Kita merencanakan masa depan, mengejar ambisi, memperdebatkan banyak hal, lalu perlahan merasa seolah waktu akan selalu tersedia bagi kita.
Padahal di balik seluruh hiruk-pikuk kehidupan, kematian diam-diam terus berjalan mendekat.
Dalam perspektif qurani, kubur bukan sekadar tempat berakhirnya tubuh, tetapi ruang kesadaran yang membongkar seluruh ilusi manusia tentang dirinya sendiri.
Karena itu para ulama sering menghadirkan renungan-renungan tentang bagaimana kubur “berbicara” kepada manusia setiap hari.
يُقَالُ إِنَّ الْقَبْرَ يُنَادِي ابْنَ آدَمَ كُلَّ يَوْمٍ فَيَقُولُ
يَا ابْنَ آدَمَ، تَفْرَحُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تُحْزَنُ فِي بَطْنِي
Dikatakan sungguh kubur selalu memanggil kepada anak Adam setiap hari, ia berkata: “Wahai anak Adam, hari ini engkau bergembira di atas punggungku, dan esok engkau akan bersedih di dalam perutku.”
تَضْحَكُ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِي، وَغَدًا قَدْ تَبْكِي عَلَى ظَهْرِي
“Hari ini engkau tertawa di atasku, dan esok engkau akan menangis di atasku.”
تَعِيشُ فَوْقِي، وَتَنْسَى أَنَّ النِّهَايَةَ عِنْدِي
“Engkau hidup di atasku, tetapi engkau lupa bahwa akhir perjalananmu ada padaku.”
تَأْكُلُ وَتَشْرَبُ وَتَجْمَعُ وَتُخَطِّطُ، وَكَأَنَّكَ بَاقٍ لَا تَرْحَلُ
“Engkau makan, minum, mengumpulkan, dan merencanakan segalanya seolah-olah engkau tidak akan pernah pergi.”
لَكِنْ تَذَكَّرْ: الْمَوْتُ كَأْسٌ وَكُلُّ النَّاسِ شَارِبُهُ، وَالْقَبْرُ بَابٌ وَكُلُّ النَّاسِ دَاخِلُهُ
“Tetapi ingatlah, kematian adalah cawan dan setiap manusia pasti akan meminumnya. Kubur adalah pintu dan setiap manusia pasti akan memasukinya.”
Dalam perspektif epistemologi qurani, problem terbesar manusia bukan sekadar tidak mengetahui, melainkan salah membaca kehidupan.
Manusia merasa hidup masih panjang karena membaca dunia hanya dengan asumsi, ambisi, dan ego. Ia mengira waktu berada dalam genggamannya, padahal hidup berjalan di bawah ketetapan Allah yang serba tiba-tiba.
Tiba-tiba sehat menjadi sakit.
Tiba-tiba dekat menjadi kehilangan.
Tiba-tiba hidup berubah menjadi kematian.
Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengguncang kesadaran manusia bukan hanya dengan jawaban, tetapi juga dengan pertanyaan:
أَيْنَ تَذْهَبُونَ
“Ke mana kalian akan pergi?”
Epistemologi Qurani mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya mengetahui realitas empiris, tetapi juga harus mampu membaca ayat di balik realitas itu.
Kubur adalah ayat. Kematian adalah ayat. Kefanaan adalah ayat. Semuanya sedang mengajarkan bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan hamba yang sedang berjalan menuju Allah.
Maka, orang yang benar-benar memahami pandangan dunia Qurani tidak akan mudah membenci orang lain.
Karena ia sadar bahwa setiap manusia sedang berjuang melawan dirinya sendiri, dan seluruh manusia sama-sama sedang berjalan menuju liang kubur.
Dengan alasan apa pun, jangan membenci orang lain.
Sebab hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi kebencian, sementara kematian datang terlalu tiba-tiba untuk menunggu manusia selesai dengan egonya.
Dan jangan pernah merasa lebih baik daripada orang lain.
Karena dalam epistemologi Qurani, kesombongan bukan sekadar penyakit moral, tetapi juga kegagalan membaca hakikat diri.
Iblis tidak gagal karena kurang pengetahuan. Ia gagal karena salah memosisikan dirinya di hadapan kebenaran:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik darinya.”
Kalimat itu menjadi simbol bahwa pengetahuan tanpa ketundukan hanya akan melahirkan kesombongan epistemologis.
Maka, semakin seseorang memahami wahyu, seharusnya semakin rendah hatinya. Semakin luas ilmunya, semakin sadar ia bahwa hidayah bukan hasil kecerdasan, melainkan rahmat Allah.
Karena pada akhirnya:
yang paling penting bukan siapa yang paling terlihat saleh, tetapi siapa yang paling tulus ketika menghadap Allah; bukan siapa yang paling dipuji manusia, tetapi siapa yang paling selamat ketika masuk ke liang kubur.
Dan mungkin tanda seseorang mulai benar-benar memahami epistemologi Qurani bukan ketika ia merasa paling benar,
melainkan ketika ia semakin lembut kepada manusia, semakin takut kepada dirinya sendiri, dan semakin sadar bahwa hidup ini bisa berubah kapan saja secara tiba-tiba. []
Penulis : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
