May 22, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kurban dan Luka Psikologis Generasi Digital

3 min read

JAKARTA – Setiap Iduladha, jutaan umat Islam menyaksikan hewan kurban disembelih. Darah mengalir. Takbir berkumandang. Daging dibagikan.

Namun di balik ritual itu, sesungguhnya ada pertanyaan yang jarang benar-benar kita renungkan: mengapa Allah memilih momentum kurban melalui kisah seorang ayah dan seorang anak muda?

Mengapa bukan kisah perang besar? Mengapa bukan kisah kemenangan politik? Mengapa justru kisah keluarga, pengorbanan, dan pergulatan batin? Di situlah letak kedalaman spiritual kurban.

Kurban memang merupakan ibadah fisik, yakni menyembelih hewan sebagaimana yang disyariatkan. Namun, ibadah kurban juga memiliki dimensi pendidikan mental, pendidikan jiwa, dan pendidikan tentang bagaimana manusia menghadapi rasa takut, kehilangan, kecemasan, serta ujian hidup dengan kesadaran tauhid.

Menariknya, tokoh sentral dalam kisah ibadah kurban itu bukan hanya Nabi Ibrahim, tetapi juga seorang anak muda: Nabi Ismail.

Hari ini, ketika dunia menghadapi krisis kesehatan mental generasi muda, kisah itu justru terasa semakin relevan.

Generasi Z hidup dalam zaman yang secara teknologi sangat maju, tetapi secara psikologis sering kali melelahkan. Mereka hidup di tengah banjir informasi, tekanan pencitraan digital, kompetisi sosial yang nyaris tanpa jeda, serta budaya perbandingan hidup yang terus bergerak melalui layar telepon genggam.

Anak muda hari ini tidak hanya dituntut sukses. Mereka juga dituntut terlihat sukses. Tidak hanya harus bahagia, tetapi juga harus tampak bahagia. Tidak hanya harus produktif, tetapi juga harus terlihat produktif.

Akibatnya, banyak anak muda mengalami kelelahan mental yang tidak selalu tampak di permukaan. Mereka terlihat tersenyum di media sosial, tetapi diam-diam kehilangan arah hidup. Mereka terkoneksi dengan ribuan akun, tetapi merasa kesepian secara eksistensial.

Di sinilah ibadah kurban sesungguhnya berbicara sangat dalam. Sebab, inti kurban bukan tentang menyembelih hewan. Inti kurban adalah keberanian menyembelih ego, rasa takut, keterikatan duniawi, serta kecemasan berlebihan terhadap hal-hal fana.

Dalam konteks modern, mungkin yang perlu “disembelih” generasi hari ini bukan kambing atau sapi semata, tetapi juga ketakutan gagal, kecanduan validasi sosial, obsesi pencitraan, mental instan, dan keinginan untuk terus diakui.

Kurban mengajarkan bahwa hidup tidak dibangun hanya oleh kenyamanan, tetapi juga oleh kemampuan manusia menghadapi pengorbanan. Di situlah sosok Nabi Ismail menjadi sangat penting untuk dibaca ulang dan dipahami dengan kesadaran yang matang oleh generasi muda.

Nabi Ismail bukan anak muda yang hidup tanpa ujian. Ia juga bukan manusia tanpa rasa takut. Namun, Al-Qur’an menggambarkannya sebagai pribadi yang memiliki keteguhan mental luar biasa. Ketika ayahnya menyampaikan mimpi tentang perintah penyembelihan, Ismail tidak menjawab dengan kemarahan, kepanikan, atau pemberontakan. Ia justru menjawab dengan kesadaran spiritual yang sangat matang:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kalimat itu bukan sekadar simbol ketaatan anak kepada ayah. Itu adalah simbol tentang kekuatan mental manusia ketika hidupnya ditopang oleh iman, makna, dan keyakinan.

Dan mungkin di sinilah problem terbesar generasi modern: banyak yang kehilangan makna sehingga mudah kehilangan arah.

Kita hidup di era yang berhasil membangun teknologi sangat canggih, tetapi belum tentu berhasil membangun ketangguhan jiwa. Kita berhasil menciptakan kecerdasan buatan, tetapi sering gagal mengelola kecemasan manusia. Kita mampu mempercepat hampir semua hal, tetapi tidak selalu mampu menenangkan hati.

Karena itu, kurban sesungguhnya bukan ritual masa lalu. Kurban adalah pelajaran peradaban. Kurban mengajarkan bahwa manusia kuat bukan karena hidupnya tanpa tekanan, melainkan karena ia memiliki nilai yang lebih besar daripada ketakutannya.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar yang perlu diwariskan kepada generasi muda hari ini: bahwa hidup tidak harus selalu mudah agar menjadi bermakna. []

Penulis :  Ulul Albab; Akademisi, Ketua ICMI Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply