Manusia Punya Kendala, Allah Punya Kendali
3 min read
JAKARTA – Hidup tidak pernah benar-benar berjalan tanpa hambatan. Setiap manusia, siapa pun dia, pasti memiliki tantangan.
Ada yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, ada yang berjuang menghadapi kegagalan, ada yang lelah oleh tekanan hidup, ada pula yang diam-diam berperang melawan rasa takut, kecewa, dan kecemasan dalam dirinya sendiri.
Karena itu hidup bukan tentang siapa yang paling sedikit masalahnya, tetapi siapa yang paling mampu bertahan dan tetap percaya kepada Allah di tengah masalahnya.
Sering kali manusia merasa putus asa karena terlalu fokus pada kendala yang ada di depan mata. Pikiran dipenuhi pertanyaan: “Bagaimana kalau gagal?”, “Bagaimana kalau tidak sanggup?”, atau “Kenapa hidup seberat ini?”
Akibatnya masalah terasa semakin besar karena diukur dengan kemampuan diri yang terbatas. Padahal ada satu hal yang sering dilupakan: manusia memang punya kendala, tetapi Allah punya kendali.
Inilah fondasi ketenangan seorang mukmin. Ia sadar bahwa hidup tidak berada di bawah kekuasaan manusia, melainkan berada di bawah pengaturan Allah Yang Maha Kuasa.
Apa yang tampak mustahil bagi manusia sangat mudah bagi Allah. Apa yang terlihat buntu di mata manusia bisa dibukakan jalan oleh Allah dari arah yang tidak disangka-sangka.
Al-Qur’an memberikan penghiburan luar biasa:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Para ulama menjelaskan, pengulangan ayat ini bukan tanpa makna. Al-Qurtubi dalam tafsirnya menerangkan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.
Bahkan sebagian ulama menegaskan ayat ini adalah bentuk jaminan Allah bahwa di balik setiap kesempitan selalu ada jalan keluar yang menyertainya.
Masalahnya, manusia sering terlalu cepat menyerah sebelum melihat kemudahan itu datang. Baru diuji sedikit sudah ingin berhenti.
Baru gagal sekali merasa hidup telah selesai. Padahal banyak pertolongan Allah justru datang setelah manusia bertahan melewati titik terberatnya.
Lihatlah bagaimana biji harus tertanam dalam tanah gelap sebelum tumbuh menjadi pohon. Lihat bagaimana emas harus dibakar agar menjadi murni.
Begitu pula manusia. Ujian bukan selalu tanda bahwa Allah meninggalkan kita, tetapi sering kali justru cara Allah menguatkan dan mematangkan jiwa kita.
Dalam kitab Al-Fawa’id, Ibn Qayyim al-Jawziyya menjelaskan, ujian memiliki hikmah besar: menyadarkan manusia tentang kelemahan dirinya, menumbuhkan ketergantungan kepada Allah, serta membersihkan hati dari kesombongan dan rasa aman yang berlebihan terhadap dunia.
Karena itu, tantangan hidup seharusnya tidak membuat manusia menjauh dari Allah, tetapi justru semakin mendekat. Sebab saat semua terasa sulit, di situlah manusia belajar bahwa dirinya tidak mampu berjalan sendirian.
Rasulullah Saw pun mengajarkan agar seorang mukmin tidak larut dalam kelemahan dan putus asa. Beliau bersabda: Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan, Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Seorang mukmin tetap harus bergerak, berusaha, belajar, dan menghadapi tantangan hidup dengan sungguh-sungguh. Namun dalam waktu yang sama, ia sadar bahwa hasil akhirnya berada dalam kendali Allah.
Di sinilah letak kekuatan orang beriman. Ia boleh menangis, tetapi tidak putus asa. Ia boleh lelah, tetapi tidak berhenti melangkah. Ia boleh memiliki kendala, tetapi tidak kehilangan keyakinan kepada Allah yang mengendalikan segalanya.
Sebab sering kali, jalan keluar tidak datang karena manusia merasa kuat, tetapi karena Allah melihat hamba-Nya terus bertahan dan tidak menyerah.
Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya melihat besarnya masalah. Lihat juga besarnya Allah yang mengatur hidup ini. Ketika jalan tampak tertutup, jangan buru-buru menyimpulkan tidak ada harapan.
Bisa jadi Allah sedang menyiapkan pintu lain yang lebih baik. Karena tidak ada kesulitan yang abadi. Tidak ada malam yang terus-menerus gelap. Dan tidak ada ujian yang Allah hadirkan tanpa hikmah dan kemudahan di baliknya.
Hidup memang penuh tantangan. Manusia memang memiliki keterbatasan. Namun selama hati tetap yakin kepada Allah, selalu ada alasan untuk bangkit dan melanjutkan langkah. Sebab manusia boleh punya kendala, tetapi Allah selalu memiliki kendali. []
Penulis : Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro.
