Awas, Di Balik Layar yang Penuh Fitur, Kreativitas Kita Justru Membeku
3 min read
JAKARTA – Pernahkah kamu merasa sudah mengerjakan tugas, tetapi tidak merasa lelah sama sekali? Bukan karena tugasnya mudah, melainkan karena semuanya telah dikerjakan oleh AI.
Tautan dibagikan, laptop dibuka, pertanyaan diketik, jawaban disalin—selesai. Tidak ada ide yang diperdebatkan, tidak ada proses yang benar-benar dirasakan. Hasilnya memang terlihat baik, tetapi di balik itu ada kekosongan yang jarang kita sadari. Inilah sisi lain dari pembelajaran berbasis teknologi yang nyaris tidak pernah kita pertanyakan.
Padahal, salah satu dimensi penting yang ingin dicapai pendidikan kita adalah melahirkan pelajar yang kreatif, sebagaimana tertuang dalam Profil Pelajar Pancasila.
Seorang pelajar kreatif bukan sekadar mampu mengoperasikan aplikasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan yang orisinal, mengekspresikan diri secara autentik, dan menciptakan sesuatu yang benar-benar bermakna.
Pertanyaannya, apakah pembelajaran yang kita jalani saat ini benar-benar mengarah ke sana?
Teknologi dalam pembelajaran memang menawarkan banyak kemungkinan. Presentasi dapat dibuat lebih menarik dengan Canva.
Diskusi dapat berlangsung lintas ruang melalui platform digital. Materi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Secara teoretis, semua ini seharusnya memberi siswa lebih banyak ruang untuk berkreasi. Namun, yang terjadi di kelas sering kali berbeda dari teorinya.
Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara pembelajaran dirancang. Ketika tugas hanya meminta siswa mencari informasi lalu menyajikannya ulang, dengan atau tanpa teknologi, tidak ada kreativitas yang benar-benar diasah di sana.
Terlalu banyak kemudahan justru membuat siswa tidak memiliki alasan untuk berpikir lebih jauh. Mereka terbiasa berhenti pada titik “selesai”, bukan pada titik “bermakna”.
Ambil contoh sederhana yang sering terjadi: seorang siswa diberi tugas membuat presentasi tentang perubahan iklim.
Ia membuka AI, mengetikkan topiknya, lalu menyalin hasilnya ke dalam slide Canva yang sudah tersedia templatnya. Dalam 20 menit, tugasnya selesai.
Secara tampilan, presentasinya rapi dan informatif. Namun, ketika diminta menjelaskan lebih lanjut di depan kelas, ia kesulitan memaparkan isi materinya sendiri karena sejak awal tidak pernah benar-benar memprosesnya. Di sinilah letak masalah yang sesungguhnya: teknologi digunakan untuk menghasilkan, bukan untuk berpikir.
Kondisi ini sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sistem pembelajaran yang tidak secara eksplisit mengajarkan cara berkreasi dengan teknologi turut berperan besar.
Ada perbedaan mendasar antara menggunakan teknologi sebagai alat eksplorasi dan menggunakannya sebagai jalan pintas. Namun, perbedaan itu jarang sekali menjadi bahan diskusi di kelas. Guru yang sekadar memindahkan metode konvensional ke platform digital tanpa mengubah cara merancang pembelajaran sejatinya belum memanfaatkan teknologi secara bermakna.
Yang dibutuhkan bukan sekadar integrasi teknologi, melainkan perancangan pembelajaran yang secara sadar memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, bereksperimen, dan menciptakan—bukan hanya mengonsumsi dan menyalin.
Ketika seorang guru merancang tugas yang mendorong siswa menghasilkan solusi nyata atas masalah di lingkungan sekitar mereka, atau menyuarakan pendapat melalui media yang mereka pilih sendiri, proses itulah yang sesungguhnya menghidupkan dimensi kreatif dalam diri siswa.
Lebih jauh lagi, jika kebiasaan ini dibiarkan tanpa koreksi, dampaknya tidak berhenti di ruang kelas. Siswa yang terbiasa bergantung pada teknologi untuk berpikir akan tumbuh menjadi individu yang kesulitan menghadapi situasi yang menuntut solusi baru.
Di dunia kerja yang terus berubah, kemampuan untuk menciptakan—bukan sekadar mengoperasikan—adalah yang paling dicari. Kreativitas bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Jika fondasi itu tidak dibangun sejak bangku sekolah, gelar dan nilai tinggi pun tidak akan cukup untuk mengisi kekosongan tersebut.
Pelajar yang kreatif tidak lahir dari kelas yang serba digital, melainkan dari kelas yang berani memberi ruang untuk gagal, mencoba ulang, dan akhirnya menemukan cara mereka sendiri. Teknologi hanyalah medium; inti kreativitas tetap terletak pada bagaimana pembelajaran membentuk keberanian siswa untuk mencipta.
Layar yang penuh fitur seharusnya menjadi kanvas, bukan sekadar alat untuk mempercepat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipikirkan. Dan tugas pembelajaran kitalah untuk memastikan siswa memahami perbedaannya. []
Penulis : Larasati Apriliya Wicaksono, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Modern, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
