Bangun Dulu Akidah Anak Sebelum Menaruh Ekspektasi Cita Cita
4 min read
JAKARTA – Akhir Mei hingga pertengahan Juni menjadi masa yang istimewa di berbagai daerah. Pada rentang waktu inilah banyak sekolah menggelar haflah akhirussanah, sebuah momentum yang menandai berakhirnya proses belajar pada satu jenjang pendidikan sekaligus menjadi gerbang menuju jenjang berikutnya.
Anak-anak yang telah menuntaskan pendidikan di SD/MI akan melanjutkan ke SMP/MTs. Lulusan SMP/MTs akan memasuki SMA, SMK, atau MA. Adapun mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di SMA/SMK/MA bersiap melangkah ke perguruan tinggi, meski tidak sedikit pula yang memilih langsung memasuki dunia kerja.
Khusus bagi lulusan SMA, terbentang begitu banyak pilihan masa depan. Mereka yang memiliki minat menjadi pendidik akan memilih fakultas pendidikan dan keguruan. Yang bercita-cita mengabdi di bidang kesehatan akan menempuh pendidikan di fakultas kedokteran, keperawatan, atau kesehatan masyarakat.
Mereka yang ingin menjadi penegak keadilan akan memilih fakultas hukum. Demikian pula yang bercita-cita menjadi insinyur, ekonom, ulama, peneliti, maupun profesi-profesi lainnya. Semua pilihan itu merupakan jalan pengabdian yang mulia selama dilandasi niat yang benar dan dijalankan sesuai tuntunan syariat.
Fondasi Pendidikan
Namun, di balik beragam pilihan profesi tersebut, terdapat satu hal yang jauh lebih mendasar, yaitu fondasi pendidikan yang benar: membangun akidah. Sebab, tujuan pendidikan tidak hanya mencetak manusia yang cerdas, tetapi juga membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Dalam perspektif Islam, keberhasilan pendidikan bukan semata-mata diukur dari gelar akademik atau kedudukan sosial, melainkan dari kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Prinsip inilah yang dicontohkan Rasulullah saw. ketika membina generasi sahabat di Makkah. Fokus utama beliau bukan mengajarkan keterampilan duniawi, melainkan terlebih dahulu menanamkan tauhid. Selama bertahun-tahun, Rasulullah saw. membangun keyakinan para sahabat tentang keesaan Allah sehingga lahirlah generasi yang kokoh imannya, luhur akhlaknya, dan siap memikul amanah kehidupan.
Landasan pendidikan yang sama juga diajarkan Allah Swt. melalui nasihat Luqman kepada putranya. Menariknya, nasihat pertama yang diabadikan Al-Qur’an bukan tentang bagaimana meraih kekayaan atau memperoleh pekerjaan yang baik, melainkan tentang menjaga kemurnian akidah.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Luqman: 13)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendasar bahwa pendidikan harus dimulai dari pembinaan akidah. Seorang anak boleh tumbuh menjadi dokter yang hebat, dosen yang cerdas, hakim yang adil, pengusaha yang sukses, atau pejabat yang berpengaruh.
Akan tetapi, jika akidahnya rapuh dan jauh dari Allah, ilmu dan kedudukannya dapat kehilangan arah, bahkan menjadi sebab munculnya kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas fondasi tauhid akan menjadi cahaya yang menghadirkan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan agama.
Setelah akidah tertanam kuat, pendidikan berikutnya adalah membentuk karakter ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Hal itu tampak dalam lanjutan nasihat Luqman kepada putranya.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Wahai anakku! Laksanakanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan hati.” (Luqman: 17)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa setelah memiliki akidah yang benar, seorang anak harus dibiasakan menjaga salat sebagai tiang agama. Salat menjadi cerminan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dari salat yang baik akan lahir kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan ketenangan jiwa.
Kepedulian Sosial
Selanjutnya, anak juga dididik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan melalui amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang bijaksana.
Pada saat yang sama, mereka dibekali sifat sabar karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Dunia pendidikan, dunia kerja, bahkan kehidupan rumah tangga kelak akan menghadirkan berbagai ujian yang hanya dapat dihadapi dengan kesabaran dan keteguhan iman.
Dari dua ayat tersebut, kita memperoleh urutan pendidikan yang sangat indah. Pertama, membangun akidah yang lurus. Kedua, membiasakan ibadah, terutama salat. Ketiga, menumbuhkan kepedulian sosial melalui amar makruf nahi mungkar. Keempat, menanamkan kesabaran sebagai bekal menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Inilah kurikulum pendidikan Islam yang sesungguhnya. Pendidikan tidak berhenti pada kecerdasan intelektual (intellectual quotient), tetapi juga membentuk kecerdasan spiritual (spiritual quotient) dan kecerdasan moral (moral quotient).
Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk sukses di bangku kuliah dan dunia kerja, tetapi juga dipersiapkan menjadi hamba Allah yang taat serta khalifah yang membawa kemaslahatan di muka bumi.
Karena itu, momentum haflah akhirussanah semestinya tidak berhenti sebagai seremoni kelulusan atau kebanggaan atas capaian akademik. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat bagi orang tua, guru, dan seluruh pendidik bahwa tugas mereka sesungguhnya belum selesai.
Justru pada setiap jenjang pendidikan yang baru, tanggung jawab untuk terus menanamkan nilai-nilai tauhid, membiasakan ibadah, membina akhlak, dan menguatkan kesabaran harus semakin diperkokoh.
Selamat kepada anak-anak yang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya. Teruslah melangkah menuju cita-cita yang diimpikan. Jadilah guru yang mendidik dengan ikhlas, dokter yang melayani dengan kasih sayang, hakim yang menegakkan keadilan, insinyur yang membangun kemajuan, pengusaha yang amanah, atau profesi apa pun yang diridai Allah Swt.
Namun, jangan pernah lupa bahwa profesi hanyalah sarana. Adapun tujuan utama pendidikan adalah menjadi hamba Allah yang bertauhid, beribadah dengan istiqamah, berakhlak mulia, dan senantiasa memberi manfaat bagi sesama.
Semoga Allah Swt. menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang kokoh akidahnya, istiqamah ibadahnya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Amin. []
Penulis : Mustain Masdar, Praktisi pendidikan
