May 29, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

“Belajar Mati” Lewat Kurban

2 min read

JAKARTA –  Iduladha identik dengan kurban. Namun, kurban bukan sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging. Di baliknya, ada pelajaran besar tentang hubungan manusia dengan kematian dan ketundukan kepada Allah Swt.

Sederhananya, kurban mengajarkan kita untuk mematikan hawa nafsu, mengingat kematian, dan memahami bahwa penyerahan diri hanya bermakna jika dilakukan karena Allah Swt.

Setiap Iduladha, umat Islam mengenang kisah Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih putranya, Ismail. Perintah itu begitu berat. Namun, Ibrahim dan Ismail memilih untuk taat.

Allah merekam kisah itu dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’” (As-Safat: 102)

Pesan utamanya jelas. Untuk dekat dengan Allah, manusia harus berani melepaskan apa yang paling dicintai jika hal itu menghalangi ketaatan. Kurban menjadi simbol mematikan sifat serakah, sombong, tabaruj, haus pujian, dan cinta dunia yang berlebihan.

Allah berfirman:

وَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Dan janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (An-Najm: 32)

Hewan yang disembelih adalah makhluk bernyawa. Melihat darah yang mengalir mengingatkan kita bahwa suatu saat nanti giliran kitalah yang akan mati.

Rasulullah ﷺ pernah berpesan:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (Tirmizi No. 2307, hasan sahih)

Kurban menjadi pengingat bahwa hidup di dunia ini tidaklah lama. Tidak ada harta, jabatan, ataupun gelar yang akan dibawa mati. Yang tersisa hanyalah amal dan keikhlasan.

Allah mengingatkan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imran: 185)

Maka sebelum ajal datang, ada baiknya kita berintrospeksi dan bertanya kepada diri sendiri: sudah siapkah kita menghadap Allah?

Sebab, tidak semua kematian memiliki makna. Yang bernilai adalah kematian atau penyerahan diri yang diniatkan karena Allah.

Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya.”  (Al-Haj: 37)

Artinya, Allah tidak melihat banyaknya hewan kurban yang disembelih. Yang Allah lihat adalah hati yang tulus dan ketakwaan di baliknya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Kurban seharusnya menjadikan kita memahami bahwa hidup dan mati hanya akan bermakna jika dijalani demi meraih rida Allah, bukan untuk hawa nafsu ataupun pujian manusia.

Kurban dan kematian memang dua hal yang berbeda. Namun, keduanya saling mengingatkan. Kurban melatih kita untuk mematikan ego, mengingat kefanaan dunia, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Lewat kurban, kita belajar mati sebelum mati. Belajar tunduk, ikhlas, dan siap kembali kepada-Nya kapan pun, di mana pun, dan pada saat apa pun waktu itu tiba.

Semoga Allah senantiasa menjaga iman dan takwa kita serta menganugerahkan husnulkhatimah di akhir kehidupan dunia ini. Amin.  []

Penulis : Nur Djamilah, Ponpes Al-Fattah Sidoarjo

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply