May 28, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Berhala Nafsu

3 min read

JAKARTA – Nama Nabi Ibrahim identik dengan keteguhan iman dan perjuangan menegakkan tauhid. Ibrahim sejak muda sebagai sosok yang berani melawan rezim penyembah berhala Raja Babilon. Dia menganut tauhid. Satu tuhan. Tanpa berhala.

Tauhid bukan sekadar mengakui Allah. Tapi cara hidup yang menempatkan Allah di atas segala-galanya. Di atas ego, harta, popularitas, bahkan keinginan diri sendiri.

Di sinilah tantangan manusia modern. Banyak orang mengaku beriman, tetapi dalam praktik kehidupannya masih lebih takut kehilangan pengakuan manusia daripada kehilangan rida Allah.

Di zaman Nabi Ibrahim, manusia menyembah patung terlihat nyata. Sementara di era modern, bentuk berhala sering kali tidak lagi berupa patung, tetapi sesuatu yang menguasai hati manusia secara berlebihan.

Ada yang menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup. Ada yang menjadikan popularitas sebagai ukuran kebahagiaan. Ada pula yang terlalu mengagungkan teknologi, jabatan, dan pujian manusia hingga melupakan nilai spiritual. Tauhid mengajarkan manusia agar tidak diperbudak dunia.

Al-Qur’an menceritakan bagaimana Ibrahim menggunakan akal sehat dan kejernihan berpikir untuk mencari kebenaran. Ketika melihat bintang, bulan, dan matahari, Ibrahim tidak langsung menerima keyakinan masyarakatnya. Ia berpikir kritis hingga akhirnya menyadari semua itu hanyalah ciptaan Allah Swt.

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketundukan, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am: 79).

Ayat ini menunjukkan tauhid melahirkan keberanian berpikir dan keteguhan prinsip. Ibrahim tidak ikut arus hanya karena mayoritas masyarakat melakukannya. Ia berani berbeda demi mempertahankan kebenaran.

Sikap ini sangat relevan dengan kehidupan generasi hari ini. Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya digital, banyak orang mudah kehilangan jati diri hanya demi diterima lingkungan. Tidak sedikit yang rela mengikuti tren negatif, meninggalkan prinsip, bahkan mengorbankan nilai agama agar dianggap modern dan tidak ketinggalan zaman.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang lebih takut tidak dianggap keren dibanding takut melakukan kesalahan moral. Validasi sosial sering lebih dicari daripada ketenangan hati. Akibatnya, manusia semakin sibuk membangun citra daripada membangun karakter.

KH Ahmad Dahlan pernah menegaskan agama jangan hanya dipahami sebagai ritual, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial dan perubahan hidup. Dia mengajarkan tauhid yang hidup: iman yang mendorong manusia berpikir maju, peduli terhadap sesama, dan berani melawan kebodohan.

Pandangan serupa juga disampaikan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menekankan pentingnya menjaga kemanusiaan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, agama seharusnya menghadirkan kedamaian dan penghormatan terhadap sesama manusia, bukan menjadi alat untuk merasa paling benar.

Tauhid yang diajarkan Nabi Ibrahim justru membebaskan manusia dari ketergantungan terhadap dunia dan penilaian manusia. Orang yang bertauhid memahami nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, kemewahan hidup, atau pujian manusia. Kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan kedekatan kepada Allah Swt.

Jejak tauhid Nabi Ibrahim juga terlihat dalam ketaatan menjalankan perintah Allah yang sangat berat, termasuk ketika diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Ibrahim menunjukkan cinta kepada Allah harus berada di atas rasa cinta kepada dunia.

Dalam kehidupan modern, pengorbanan mungkin tidak selalu berbentuk penyembelihan seperti kisah Ibrahim. Namun manusia tetap diuji melalui hal-hal yang dicintainya. Ada yang diuji dengan harta, jabatan, pasangan, karier, atau ambisi pribadi. Pertanyaannya, apakah semua itu mendekatkan kepada Allah atau justru membuat manusia semakin jauh dari-Nya?

Rasulullah Saw pernah mengingatkan tentang celakanya manusia yang diperbudak harta dan dunia. Pesan ini terasa sangat relevan di era materialisme hari ini. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran, kesehatan, bahkan keluarga demi mengejar dunia tanpa batas. Padahal Nabi Ibrahim mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritualitas. Beliau tetap hidup di dunia, tetapi hatinya tidak diperbudak dunia.

Nurcholish Madjid juga pernah mengingatkan, tauhid harus melahirkan sikap terbuka, rendah hati, dan tidak mudah mengkultuskan selain Allah. Ketika manusia terlalu mengagungkan dunia, kekuasaan, atau kelompoknya sendiri, di situlah nilai tauhid mulai melemah.

Hari ini, dunia modern membutuhkan lebih banyak manusia yang memiliki keteguhan seperti Nabi Ibrahim: berani menjaga prinsip, tidak mudah ikut arus, dan tetap menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan.

Sebab kemajuan teknologi tanpa tauhid hanya akan melahirkan manusia cerdas yang kehilangan arah. Kekayaan tanpa iman dapat melahirkan kesombongan. Popularitas tanpa spiritualitas hanya menghadirkan kehampaan.

Jejak tauhid Nabi Ibrahim bukan hanya sejarah tentang seorang nabi, tetapi pelajaran sepanjang zaman tentang bagaimana manusia menjaga hati di tengah dunia yang terus berubah. Karena pada akhirnya, manusia yang paling kuat bukan yang paling kaya atau paling terkenal, tetapi yang paling kokoh menjaga imannya di hadapan Allah Swt.  []

Penulis :  Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply