May 27, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kurban, Udhiah, dan An-Nahr: Memahami Istilah dan Hikmahnya

3 min read

JAKARTA –  Ibadah kurban merupakan salah satu syariat Islam yang memiliki makna spiritual sangat mendalam. Ibadah ini dilaksanakan pada Iduladha dan hari-hari Tasyrik sebagai bentuk ketaatan sekaligus upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam literatur Islam, ibadah ini dikenal dengan beberapa istilah, yakni kurban, udhiah, dan an-nahr. Ketiga istilah tersebut memiliki akar kata, makna, dan penekanan yang berbeda.

Istilah kurban berkaitan dengan tujuan ibadah, sedangkan udhiah dan an-nahr lebih berkaitan dengan tata cara pelaksanaannya.

Kurban: Jalan Mendekatkan Diri kepada Allah

Kata kurban berasal dari bahasa Arab القربان (al-qurbān), yang berakar dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Dari akar kata tersebut lahir beberapa istilah lain, seperti qarīb (dekat), taqarub (mendekatkan diri), dan qurbān (sarana untuk mendekatkan diri).

Karena itu, makna dasar kurban adalah sesuatu yang dipersembahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam konteks ibadah, kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan bentuk penghambaan dan pengorbanan demi meraih rida Allah Swt.

Hal ini dapat dilihat dalam kisah dua putra Nabi Adam, Habil dan Kabil, ketika keduanya mempersembahkan kurban. Habil mempersembahkan seekor domba, sedangkan Labil mempersembahkan hasil pertaniannya sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Maidah 27.

Dari kisah tersebut tampak bahwa istilah kurban lebih menitikberatkan pada tujuan dan nilai spiritual ibadah, yakni mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (Al-Haj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban terletak pada ketakwaan dan keikhlasan, bukan semata-mata pada darah atau daging hewan yang disembelih.

Menarik pula menyinggung kata kurban dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kurban memiliki beberapa makna, antara lain:

1. pemberian untuk menyatakan kebaktian atau kesetiaan;

2. orang atau binatang yang menderita akibat suatu peristiwa;

3. sesuatu yang dikorbankan, seperti harta, jiwa, atau perasaan.

Dalam peristiwa ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah Swt. untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail tampak jelas dimensi pengorbanan tersebut.

Nabi Ibrahim berada pada posisi sebagai pihak yang harus merelakan sesuatu yang sangat dicintainya demi ketaatan kepada Allah Swt., sedangkan Nabi Ismail menjadi pihak yang siap dikorbankan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.

Udhiah: Penyembelihan pada Waktu Duha

Istilah kedua adalah udhiah. Kata ini berasal dari akar kata:

– dhuhā (waktu pagi menjelang siang),

– adhhā (memasuki waktu duha),

– udhiah (hewan yang disembelih pada waktu duha di hari raya).

Disebut udhiah karena penyembelihan hewan kurban secara tradisional dilakukan setelah salat Iduladha pada pagi hari, lalu berlanjut hingga hari-hari tasyrik.

Dalam istilah fikih, udhiah berarti hewan ternak—seperti unta, sapi, kerbau, kambing, atau domba—yang disembelih pada Iduladha dan hari-hari Tasyrik sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt.

Dengan demikian, istilah udhiah lebih menekankan pada waktu dan bentuk pelaksanaan ibadah kurban.

An-Nahr: Teknik Penyembelihan

Istilah berikutnya adalah an-nahr, istilah yang relatif kurang familier di tengah masyarakat Indonesia. Kata ini memiliki makna dasar:

– bagian leher atas atau dada bawah,

– menusuk atau menyembelih pada bagian tersebut.

Dalam syariat Islam, nahr adalah cara penyembelihan khusus untuk unta, yaitu dengan menusuk bagian leher bawah (labbah) ketika unta dalam posisi berdiri.

Cara ini berbeda dengan penyembelihan kambing dan sapi yang dilakukan dengan az-zabh, yakni memotong leher karena struktur leher keduanya lebih pendek.

Istilah nahr merujuk pada firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kautsar ayat 2: Fasalli li rabbika wanhar “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

Kata wanhar pada ayat tersebut berasal dari kata nahr.

Karena itu, istilah an-nahr lebih menitikberatkan pada teknik atau tata cara penyembelihan hewan kurban.

Perbedaan Kurban, Udhiah, dan An-Nahr

Walaupun ketiganya berkaitan dengan ibadah yang sama, masing-masing memiliki fokus makna yang berbeda:

– Kurban berbicara tentang mengapa ibadah itu dilakukan, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

– Udhiah berbicara tentang kapan dan dalam bentuk apa ibadah itu dilakukan.

– An-Nahr berbicara tentang bagaimana proses penyembelihan dilakukan.

Hikmah Memahami Istilah-Istilah Ini

Memahami perbedaan istilah kurban, udhiah, dan an-nahr membantu seorang Muslim melihat ibadah kurban secara lebih utuh. Ibadah ini bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan juga mengandung:

– nilai spiritual,

– kepatuhan kepada Allah,

– pengorbanan,

– ketakwaan,

– serta kepedulian sosial.

Dengan demikian, kurban menjadi sarana pendidikan jiwa agar seorang Muslim semakin dekat kepada Allah Swt. sekaligus semakin peduli terhadap sesama manusia.[]

Penulis : Mustain Masdar

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply