May 26, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Menjaga Kemurnian Kurban di Tengah Godaan Pencitraan

3 min read

JAKARTA – Banyak orang mampu membeli hewan kurban. Tetapi tidak semua orang benar-benar mampu menjaga kemurnian kurbannya.

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak inti terdalam ibadah kurban. Karena sesungguhnya, yang paling sulit dalam kurban bukan membeli sapi atau kambingnya, melainkan menjaga hati agar tetap ikhlas, bersih, dan tunduk hanya kepada Allah Swt.

Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh godaan pencitraan. Amal mudah dipamerkan dan kebaikan mudah dipublikasikan. Bahkan ibadah kadang berubah menjadi bagian dari penampilan sosial.

Allah menegaskan bahwa yang dinilai bukan semata besarnya hewan kurban, mahalnya sapi, atau banyaknya jumlah kurban seseorang. Yang paling utama justru adalah ketakwaan yang hidup di dalam hati. Di sinilah kita perlu memahami bahwa kurban bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah spiritual dan moral.

Para ulama mengajarkan berbagai adab dan ketentuan syar’i agar kurban tidak kehilangan ruhnya. Uraian singkat berikut ini mencoba menyampaikan kembali beberapa hal untuk kita renungkan kembali dalam upaya menyempurnakan ibadah kurban kita.

Pertama, kurban harus dijaga dari riya’ dan kesombongan. Ini penting sekali di era media sosial. Jangan sampai kurban berubah menjadi panggung untuk mencari pujian manusia. Memang tidak semua dokumentasi itu salah.

Tetapi hati tetap harus dijaga. Jangan sampai yang lebih sibuk dipikirkan justru bagaimana terlihat dermawan di mata manusia dibanding bagaimana diterima Allah. Sering kali yang merusak amal bukan kekurangan harta, melainkan besarnya ego.

Kedua, hewan kurban harus diperoleh dari harta yang halal dan baik. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan apa saja. Islam mengajarkan bahwa ibadah yang mulia harus lahir dari rezeki yang bersih.

Jangan sampai seseorang ingin mendekat kepada Allah melalui kurban, tetapi hartanya berasal dari kezaliman, manipulasi, korupsi, atau merugikan hak orang lain. Karena Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Ketiga, kurban harus dilakukan dengan penuh empati dan kasih sayang. Islam bahkan mengatur bagaimana hewan diperlakukan dengan baik: tidak disiksa, tidak dipertontonkan penyembelihannya secara kasar, pisau harus tajam, dan prosesnya tidak boleh menyakiti secara berlebihan.

Ini menunjukkan bahwa kurban bukan pendidikan kekerasan, tetapi pendidikan kasih sayang yang dibingkai ketaatan kepada Allah. Jadi jika ada yang menstigmakan ibadah kurban sebagai “pembantaian hewan”, itu tentu tidak saja keliru, tetapi juga zalim.

Keempat, orang yang berkurban harus menjaga akhlak dan ketawadhuannya. Kadang ada orang yang setelah berkurban justru merasa lebih saleh dari orang lain. Padahal, kurban seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin bangga diri.

Sebab bisa jadi seekor kambing milik orang kecil yang penuh keikhlasan jauh lebih mulia di sisi Allah dibanding beberapa sapi milik orang kaya yang penuh kesombongan.

Dan yang terakhir, kurban harus melahirkan kepedulian sosial. Kurban bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Ada fakir miskin yang menunggu kebahagiaan di hari raya. Ada keluarga kurang mampu yang mungkin hanya setahun sekali dapat menikmati daging.

Karena itu, kurban sejatinya adalah latihan membersihkan hati dari egoisme dan cinta dunia yang berlebihan. Mungkin inilah alasan mengapa Allah tidak mengatakan bahwa yang sampai kepada-Nya adalah darah dan daging hewan kurban. Tetapi Allah menyebut ketakwaan.

Karena sejatinya, kurban bukan tentang apa yang disembelih oleh tangan kita, tetapi tentang apa yang berhasil disembelih di dalam hati kita, yaitu kesombongan, riya’, egoisme, cinta dunia, dan ketidakpedulian kepada sesama. []

Penulis :  Ulul Albab; Akademisi Unitomo Surabaya; Ketua ICMI Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply