November 28, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

BPPTKG Nyatakan Merapi Berstatus Siaga, Pemerintah Daerah Sekitar Siapkan Evakuasi

4 min read
Prime Banner

YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menginformasikan bahwa status aktivitas Gunung Merapi menjadi level III atau Siaga. Kenaikan status tersebut tertanggal mulai hari ini, Kamis (05/11/2020), pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan data-data aktivitas vulkanik selama ini, BPPTKG mengeluarkan status dari level II atau waspada menjadi level III atau Siaga. Kenaikan status mendorong BPTTKG mengeluarkan beberapa rekomendasi. BPPTKG melakukan pemetaan sektoral terkait prakiraan daerah bahaya meliputi 12 desa yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah.

Wilayah administrasi desa yang masuk di dalam prakiraan daerah bahaya di DIY yaitu Glagaharjo, Kepuharjo dan Umbulharjo yang berada di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, tiga kabupaten teridentifikasi memiliki wilayah-wilayah desa yang masuk dalam prakiraan daerah bahaya, yaitu Magelang, Boyolali dan Klaten.

Berikut ini wilayah di tingkat desa dan kecamatan yang masuk dalam tiga kabupaten tersebut, Ngargomulyo, Krinjing dan Paten di Dukun, Magelang, Tlogolele, Klakah dan Jrakah di Selo, Boyolali dan Tegal Mulyo, Sidorejo dan Balerante di Kemalang, Klaten.

Di samping itu, rekomendasi kedua yang diberikan oleh BPPTKG yakni penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan.

Selanjutnya, pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Terakhir, Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segara sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

BPPTKG menginfokan bahwa pascaerupsi besar Gunung Merapi pada 2010 lalu, gunung yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah mengalami erupsi magmatis. Tercatat erupsi pada rentang waktu 11 Agustus 2018 hingga September 2019.

“Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, Gunung Merapi Kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam (VA) dan rangkaian letusan eksplosif sampai dengan 21 Juni 2020,” tulis Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam keterangannya, Rabu (05/11/2020).

Ia menambahkan, aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini. Hal tersebut berdasarkan data hasil pemantauan aktivitas vulkanik, seperti kegempaan dan deformasi yang masih terus meningkat. Kondisi tersebut dapat memicu terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif.

“Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awan panas sejauh 5 km,” tambah Hanik.

Status kenaikan aktivitas Gunung Merapi ini telah disampaikan BPPTKG kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Gubernur Jawa Tengah dan para bupati di beberapa wilayah.

 

Pemerintah Daerah Siapkan Evakuasi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto mengatakan bahwa sejumlah masyarakat akan mengungsi menuju desa bersaudara yang telah ditetapkan. Ia juga menyebutkan ada tiga desa yang direkomendasi untuk mengungsi di Kecamatan Dukun, yakni Argomulyo, Paten, dan Krinjing.

Meski demikian, saat ini evakuasi itu dilakukan sementara hanya untuk Desa Paten yang meliputi dua dusun Babadan I dan Babadan II. Kemudian Desa Krinjing meliputi Dusun Trono, Trayem, dan Pugeran.

Dijelaskannya bahwa untuk Desa Paten mengungsi ke Banyurojo dan Mertoyudan, Desa Argomulyo ke Tamanagung, dan Desa Krinjing ke Deyangan.

Menurut Edy, evakuasi akan dilakukan jika desa tersebut telah siap, dan untuk prosesnya dilakukan sejak Kamis (05/11/2020) ini. Warga yang bakal dievakuasi secara bertahap, yakni Desa Paten meliputi Babadan I ada 766 jiwa dan Babadan II ada 397 jiwa. Kemudian Desa Krinjing meliputi Dusun Trono ada 347 jiwa, Trayem 161 dan Pugeran 246 jiwa.

“Evakuasi diprioritaskan untuk kelompok rentan meliputi lansia, balita, anak-anak, ibu hamil, dan orang sakit,” kata Edy Susanto, dilansir dari Antara, Kamis (5/11/2020).

Selain di Magelang, yang merupakan wilayah terdampak bencana erupsi, persiapan juga dilakukan warga di kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi wilayah Boyolali.

“Masyarakat sudah siap mengungsi jika sewaktu- waktu terjadi erupsi Merapi,” ujar Sekda Boyolali Masruri, Kamis (05/11/2020).

Bahkan, pihaknya sudah mengirimkan satu unit truk ke Desa Klakah, Kecamatan Selo. Kendaraan itu untuk membantu warga mengungsi saat terjadi erupsi Merapi. Sedangkan untuk Desa Tlogolele dan Jrakah, bakal memanfaatkan kendaraan milik warga setempat.

“Dalam kondisi seperti ini, semua kendaraan milik warga sudah di parkir menghadap ke jalan. Jadi sewaktu- waktu siap dimanfaatkan langsung untuk mengungsi,” ujarnya.

Camat setempat diminta melakukan sosialisasi kepada masyarakat di tiga desa terdekat puncak Merapi. Yaitu, Desa Tlogolele meliputi Dusun Belang, Takeran, dan Stabelan. Desa Jrakah terdiri dari Dusun Jarak dan Sepi.

“Kemudian Desa Klakah mencakup Dusun Sumber, Bakalan, Bangusari, dan Klakah Dhuwur. Semua jalur evakuasi sudah kami cek, kondisinya bagus,” ujar Masruri.

Terkait persiapan yang perlu dilakukan warga, sekda meminta masyarakat menyiapkan surat-surat berharga seperti sertifikat maupun uang. Bila sewaktu- waktu harus mengungsi agar dapat segera dibawa.

“Namun, bila terjadi erupsi Merapi kali ini, diprediksi tak begitu besar. Seperti 2006 lalu,” ujarnya.

Sementara untuk lokasi pengungsian sudah dalam kondisi siap. Lokasi pengungsian warga Desa Tlogolele sudah ditetapkan di Mertoyudan, Magelang sebagai sister village atau desa bersaudara.  Kemudian bagi warga Desa Klakah, Kecamatan Selo tujuan mengungsi ke Desa Nggantang, Kecamatan Sawangan, Magelang. Sementara untuk tempat pengungsian warga Desa Jrakah di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota.

“Pemkab Boyolali sudah koordinasi dengan pemerintah di desa yang bakal menjadi tempat pengungsian tersebut,” ujarnya. []

Advertisement