August 1, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Di Desa Migran Bedali Kediri, Emak-Emak Purna Migran Dilatih Memproduksi Hasil Sumber Daya Alam Lokal Tingkatkan Nilai Jual

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

KEDIRI – Permasalahan Pekerja Migran Indonesia tidak berhenti saat proses pemberangkatan dan saat bekerja di luar negeri, tetapi juga saat mereka pulang ke tanah air. Terdapat beberapa  permasalahan yang menjadi problema klasik yang sering terjadi di kalangan para Pekerja Migran Indonesia sepulangnya ke tanah air, seperti: Pekerja Migran Indonesia cenderung tidak memiliki keahlian yang kompetitif; dan sebagian menghadapi masalah keluarga yang rumit pada pasca kembali ke dalam negeri; pola hidup hedonis menjadi fenomena di sering terjadi, khususnya mereka yang telah mengalami peningkatan status sosialekonomi.

Melihat berbagai permasalahan di atas, salah satu cara mengatasinya adalah melalui sebuah pemberdayaan. Masyarakat purna migran disini perlu diarahkan kepada keberdayaan mengahadapi permasalahannya dan diberikan suatu dorongan atau suatu bentuk kekuatan agar mampu membawa dirinya sendiri menuju kesejahteraan.

Desa Bedali di Kecamatan Ngancar di Kabupaten Kediri merupakan salah satu desa kantong Pekerja Migran Indonesia di Kabupaten Kediri. Menurutpenuturan Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja dan Informasi Pasar Kerja Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kediri, Desa Bedali ditunjuk menjadi Desa

Migran Produktif sejak tahun 2017 dengan dasar banyaknya jumlah pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia asal Desa Bedali. Dengan demikian jumlah Pekerja Migran Indonesia purna yang ada di Desa Bedali juga cukup banyak, karena sebagian warga usia produktif dari desa ini banyak yang mengadu nasib di negeri orang untuk menjadi Pekerja Migran Indonesia.

Salah satu upaya untuk mewujudkan pemberdayaan tersebut, dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa Bedali (BUMDes) Maju Makmur. Saat ini, di BUMDes tersebut tengah serius melatih warganya memproduksi hasil sumber daya alam setempat, nanas salah satunya.

Meski baru berupa usaha rintisan, BUMDes Maju Maktur Kecamatan Bedali Kab Kediri mengolah buah nanas menjadi minuman segar sari nanas dengan kapasitas produksi sekitar 400 -500 kardus per hari. Setiap kemasan kardus berisi 24 X 120 ml per cup,  atau sekitar sekitar 916-1200 cup lebih per hari. Dengan jumlah tenaga kerja sekitar 10-12 orang.

Ketua BUMDes Maju Makmur Fendi Mustopa mengungkapkan , meski masih kecil,  olahan nanas ini punya potensi peningkatan nilai ekonomi yang sangat besar jika dibandingkan dengan dijual buah nanas semata. Apalagi nanas yang diolah umumnya di bawah grade A yang hargannya rata-rata Rp 2000 per buah.

Dari 2 buah nanas grade B, bisa diproduksi sebanyak 24 cup minuman sari nanas. Satu cup minuman sari nanas, dijual BUMDes ke konsumen dengan harga Rp 400 per cup. Jadi tanpa pengolahan, 1 buah nanas grade b yang harganya hanya senilai paling tinggi Rp 2000 per buah, hanya akan menghasilkan uang sebesar Rp 4.000 maksimal.

“Jika diolah menjadi minuman sari nanas bisa menghasilkan Rp17.500 -20.000. Sehingga mempunyai nilai tambah yang cukup besar,” ujar Fendi Mustopa saat dihubungi JNR Kominfo Jatim  melalui WA , Kamis (17/06/2021)

Dengan  potensi olahan nanas yang besar ini, maka ke depan, pihak BUMDes juga akan mengembangkan bentuk olahan lainnya seperti yang saat ini sudah dimulai pelatihannya pembuatan dodol nanas. Selain itu, ada juga rencana mengolah nanas menjadi keripik nanas, selai nanas dan nanas kering kemasan, serta bentuk olahan lainnya seperti roti nanas.

Namun, kata Fendi, untuk sementara ini, BUMDes akan fokus mengembangkan produk minuman sari nanas. Minuman sari buah nanas  yang dipimpinnya sudah memiliki sertifikasi dari BPOM dan sertifikasi halal. Jadi masyarakat tak perlu ragu mengkonsumsi sari buah nanas “Nyeess”.

“BUMDes juga akan berkonsentrasi meningkatkan kapasitas produksi sehingga bisa mencapai 600 karton lebih per hari,” pungkasnya. []

Advertisement
Advertisement