July 1, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Eropa Dilanda Heatwave, Asia Tenggara Hidup dengan Suhu Panas-Lembap Berbahaya

1 min read

JAKARTA – Di Asia Tenggara, suhu udara belum setinggi Spanyol atau Prancis yang belakangan menembus 40 derajat Celsius. Namun, kelembapan udara yang tinggi membuat risiko gangguan kesehatan akibat panas, mulai dari kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heat stroke), tetap besar.

Laporan terbaru Climate Central menunjukkan, Asia Tenggara bersama sebagian wilayah tropis Amerika Selatan dan pesisir Afrika Barat kini mengalami sedikitnya enam bulan hari panas-lembap berbahaya (dangerous humid heat days) setiap tahun.

Climate Central mendefinisikan hari panas-lembap berbahaya sebagai hari ketika suhu bola basah (wet-bulb temperature) mencapai sedikitnya 25 derajat Celsius. Berbeda dengan suhu udara biasa, suhu bola basah memperhitungkan suhu sekaligus kelembapan udara sehingga dinilai lebih mampu menggambarkan seberapa besar tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia.

“Seiring memanasnya planet kita, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil, kondisi panas-lembap menjadi semakin sering dan semakin intens,” demikian tertulis dalam laporan yang dikutip Selasa (30/6/2026).

Laporan tersebut menjelaskan, yang membuat cuaca panas semakin berbahaya bukan semata-mata suhu udara, melainkan juga kelembapan. Ketika udara sangat lembap, suhu yang tampak biasa saja di termometer dapat terasa jauh lebih menyengat.

Dalam kondisi normal, tubuh melepaskan panas melalui penguapan keringat. Namun, ketika udara sudah dipenuhi uap air, keringat menjadi lebih sulit menguap sehingga panas tidak lagi dapat dilepaskan secara efektif. Akibatnya, panas justru menumpuk di dalam tubuh. “Ketika panas terus menumpuk di dalam tubuh, jantung harus bekerja lebih keras. Risiko dehidrasi dan penyakit akibat panas, termasuk kelelahan akibat panas maupun serangan panas, pun meningkat,” demikian dikutip dari laporan. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply