Fenomena Bediding Melanda Pulau Jawa
2 min read
JAKARTA – Fenomena bediding kembali dirasakan di sejumlah wilayah Pulau Jawa seiring memasuki puncak musim kemarau. Pada malam hingga menjelang pagi, suhu udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya, meski siang hari tetap terik.
Kondisi ini banyak dirasakan masyarakat di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, terutama di kawasan dataran tinggi.
Belakangan, laporan suhu minimum dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan beberapa daerah di Jawa Timur mencatat suhu di bawah 20 derajat Celsius. Bahkan kawasan Bromo mencatat suhu hanya 11,5 derajat Celsius.
Penurunan suhu ini merupakan bagian dari fenomena bediding yang memang lazim terjadi setiap musim kemarau.
Lantas, apa sebenarnya fenomena bediding? Mengapa udara bisa terasa sangat dingin saat musim kemarau, dan daerah mana saja yang paling merasakannya?
Apa Itu Fenomena Bediding?
Fenomena bediding merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa, yakni bedhidhing, untuk menggambarkan kondisi udara yang terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari ketika musim kemarau berlangsung. Meski malam terasa menusuk, suhu pada siang hari justru tetap panas akibat paparan sinar matahari yang intens.
Secara klimatologis, bediding merupakan fenomena alam yang normal terjadi setiap tahun. Kondisi ini umumnya muncul pada puncak musim kemarau, yakni sekitar Juni hingga September, dengan periode yang paling sering dirasakan antara Juli hingga awal September.
Pada periode tersebut, langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit. Curah hujan juga menurun sehingga udara menjadi lebih kering. Kombinasi inilah yang membuat suhu udara pada malam hari turun cukup signifikan dibandingkan musim lainnya.
Menurut BMKG, meski pada awal musim kemarau kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia bagian selatan masih dipengaruhi monsun Australia yang belum sepenuhnya kuat, suhu dingin tetap mulai dirasakan di sejumlah daerah, terutama wilayah pegunungan seperti Dieng, Lembang, hingga kawasan pegunungan di Jawa Timur.
Mengapa Fenomena Bediding Membuat Suhu Malam Terasa Lebih Dingin?
Fenomena bediding terjadi karena beberapa faktor meteorologis yang saling berkaitan. Berikut penyebab utama suhu udara menjadi lebih dingin saat musim kemarau.
– Tutupan awan sangat minim. Langit yang cerah membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam hari.
– Kelembapan udara rendah. Saat musim kemarau, kandungan uap air di udara berkurang sehingga tidak banyak panas yang tertahan di dekat permukaan bumi.
– Radiasi panas berlangsung lebih efektif. Permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat melalui radiasi gelombang panjang sehingga suhu udara terus menurun menjelang dini hari.
– Pengaruh angin muson timur. Angin yang bertiup dari Australia membawa massa udara yang lebih dingin menuju wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Jawa.
– Wilayah dataran tinggi lebih mudah mengalami penurunan suhu. Daerah pegunungan memiliki suhu dasar yang memang lebih rendah sehingga efek bediding terasa lebih kuat dibandingkan wilayah pesisir.
Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa suhu malam yang biasanya berkisar antara 21-23 derajat Celsius dapat turun hingga sekitar 17-19 derajat Celsius ketika fenomena bediding terjadi.
Di beberapa kawasan pegunungan, suhu bahkan bisa lebih rendah lagi sehingga memunculkan embun upas atau embun beku seperti yang sering terlihat di Dieng maupun kawasan Bromo. []
