Kalahkan Hong Kong, Taiwan Menjadi Tujuan Paling Favorit PMI Asal Trenggalek
2 min read
JAKARTA – Pekerja Migran Indonesia (PMI) masih menjadi pilihan bagi masyarakat desa untuk mengubah taraf hidup yang lebih baik.
Tujuan ke Eropa dan Timur Tengah masih belum banyak diminati.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Perinaker Trenggalek, Sarkun membeberkan data penempatan PMI Kabupaten Trenggalek Bulan Januari 2025 sampai dengan April 2026 tercatat sebanyak 4.195 orang.
“Dengan rincian sebagai berikut, untuk tujuan Eropa dan Timur Tengah ada 45 orang atau 1,10 persen,” ujar Sarkun , Minggu (10/5/2026).
Lalu, disusul tujuan Asia dan Afrika menjadi tujuan PMI asal Trenggalek sebanyak 4.122 orang atau 90,20 persen.
Selanjutnya, negara tujuan wilayah Amerika dan Pasifik sebanyak 28 orang atau 0,70 persen.
“Jumlah keseluruhan yang terdata kemarin per April ya kami ngecek di sistem itu sekitar 4 ribuan,” ulasnya.
Disinggung tujuan paling banyak tetap di Taiwan dan Hongkong. Kemudian lainnya juga tersebar di Jepang, Korea hingga Afrika.
Sarkun menambahkan untuk bidang pekerjaan PMI ada formal dan non formal. Dimana jika formal ditempatkan di perusahaan atau di pabrik dan sebagainya.
“Kalau yang non-formal kebanyakan di asisten rumah tangga,” paparnya.
Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Trenggalek menyarankan karena kepergian ke luar negeri untuk selalu menggunakan jalur resmi.
Supaya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ada yang bertanggung jawab. Tidak seperti Pekerja Migran Indonesia Overstay (PMIO).
Apabila tertangkap oleh Imigrasi negara tujuan akan merugikan diri sendiri dan juga keluarga.
“Silakan melalui jalur yang prosedural artinya jalur yang resmi yang melalui Dispernaker untuk pemrosesannya kemudian melalui PT yang resmi,” pesannya.
Sarkun mencontohkan apabila ada masalah pasti akan ikut ada yang menangani. Mulai apabila meninggal, proses kepulangan bisa mendapatkan pelayanan.
Lalu, jika sakit kalau memang itu resmi pasti akan dipulangkan secara gratis dengan perjanjian yang ada.
“Namun sebaliknya kalau seperti ini kan statusnya saja menjadi PMIO. Sudah menyalahi tinggal di negara orang lain, mendapatkan saksi yang bisa merugikan,” tandasnya.
Senada, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin jauh-jauh hari sudah berupaya untuk melindungi PMI asal Bumi Menak Sopal ini. Salah satunya dengan menggandeng seluruh pihak.
Fasilitasi Pemkab Trenggalek yaitu apabila yang ingin bekerja di Korea Selatan dan Jepang salah satunya, tidak perlu merogoh uang. Sebab Pemkab Trenggalek memastikan biaya awal ditanggung semua oleh BPR Jwalita.
“PMI itu pahlawan devisa, kita pastikan tidak tertipu, tidak boncos duluan. Sehingga kita kerjasama langsung dilihat dari Korea Mr. Lee. Lalu, Bu Esther, PT yang nanti melakukan pelatihan sekaligus penyaluran,” ungkap Mas Ipin beberapa waktu lalu. []
