August 12, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Kembalikan Kedaulatan Remitansi ke Pekerja Migran Indonesia

4 min read

JAKARTA – Di tengah derasnya arus remitansi dari jutaan Pekerja Migran Indonesia, Bank Indonesia mencatat total pengiriman uang yang dilakukan oleh para pekerja Indonesia di luar negeri mencapai Rp288 triliun sepanjang 2025. Angka remitansi ini naik drastis senilai Rp35 triliun dari tahun sebelumnya,  yakni Rp253 triliun pada 2024.

Remitansi dengan nilai fantastis setiap tahunnya ini memberi pengaruh besar pada cadangan devisa negara. Tak ayal para Pekerja Migran Indonesia yang dikenal sebagai Pahlawan Devisa Negara ini menjadi penggerak roda ekonomi utama di Indonesia.

Namun muncul sebuah pertanyaan sederhana, apa keuntungan para Pekerja Migran Indonesia dari hasil remitansi yang dilakukannya, selain lebih banyak dinikmati lembaga keuangan konvensional? Sedangkan para penghasil devisa justru hanya sekadar menjadi pengguna layanan?

Mengenal Sosok Tata Sugiarta

Pria asal Kuningan Jawa Barat, Tata Sugiarta (45), merupakan pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Migimo, startup layanan digital koperasi yang membangun ekosistem ekonomi bagi Pekerja Migran Indonesia, baik bagi Purna Pekerja Migran Indonesia di dalam negeri maupun pekerja yang masih di luar negeri.

Tata pernah bekerja di Jepang selama 3 tahun pada 2014-2017 melalui Program G to G pada sektor agrikultur. Dari pengalamannya yang pernah bekerja di luar negeri, Tata merasakan langsung realitas sebagai pekerja migran yang jauh dari keluarga di tanah air. Sempat menjadi kegelisahan pribadinya, Tata merasa tidak mendapat manfaat dari proses remitansi yang pernah ia lakukan.

“Pekerja migran disebut sebagai pahlawan devisa, tetapi keuntungan dari remitansi justru tidak kembali kepada mereka,” kata Tata Sugiarta dalam wawancaranya bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) yang dilakukan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (3/8/2026).

Apa Itu Migimo?

Nama Migimo diambil dari etimologi Bahasa Jepang dari kata Miji yang berarti kanan, bisa berarti juga berupa kekuatan atau keselarasan. Migimo sendiri digambarkan dengan lengkungan huruf M pada logonya yang memiliki arti filosofis sebagai jembatan.

Seperti nama yang digunakannya, Tata ingin Migimo menjembatani antara Pekerja Migran Indonesia di luar negeri dengan dengan kedaulatan ekonomi mereka sendiri.

Migimo lahir pada 30 Desember 2024. Meski belum genap setahun, namun transaksi yang terjadi melalui Migimo sudah mencapai ratusan juta rupiah.

Berangkat dari Kegelisahan Pribadi

Berbekal pengalaman dan rasa empati terhadap perjuangan Pekerja Migran Indonesia di luar negeri, Tata mulai mengembangkan Migimo tak hanya sekadar sebuah produk teknologi.

Ia menyebut ada dua persoalan besar yang dihadapi Migimo. Pertama, terkait skema remitansi yang memberi keuntungan kurs dan biaya kirim sepenuhnya dinikmati operator. Kedua, lingkaran setan ekonomi di komunitas pekerja migran yang membuat banyak dari mereka sulit membangun usaha berkelanjutan setelah pulang ke Indonesia.

“Banyak yang baru bisa berbisnis setelah kembali ke Indonesia. Migimo ingin memutus hal buruk tersebut,” ujar Tata.

Konsep Layanan Digital Migimo

Migimo mengusung konsep yang disebut sebagai economic sharing remittance. Sederhananya, biaya kurs dan biaya kirim tidak sepenuhnya menjadi milik operator,  dalam hal ini Migimo, melainkan sebagian dikembalikan kepada pekerja migran sebagai pemilik nilai transaksi.

Berbeda dengan layanan remitansi pada umumnya, Migimo mengklaim menghadirkan pembagian manfaat yang lebih adil. Tata menyebut, sebagian keuntungan akan kembali kepada pekerja migran.

“Kalau kirim uang lewat operator lain, keuntungan kurs dan biaya kirim adalah milik operator. Kalau lewat Migimo, sebagian kembali ke pekerja migran,” katanya.

Bagi Tata, model ini bukan sekadar soal efisiensi, melainkan soal kedaulatan ekonomi. Ia ingin pekerja migran tidak hanya menjadi penyumbang devisa, tetapi juga ikut menikmati hasil dari perputaran nilai yang mereka ciptakan.

Remitansi dan Bisnis Jarak Jauh

Selain remitansi, Tata juga menjelaskan Migimo mengembangkan konsep kepemilikan bisnis jarak jauh, yang memungkinkan pekerja migran dapat membeli unit modal penyertaan untuk kemudian bersama-sama membiayai bisnis yang dikelola Migimo.

“Dari skema ini, keuntungan akan dibagikan dengan skema 70 persen untuk. pekerja migran, sedangkan 30 persen sisanya menjadi bagian pengelola yang menyiapkan operasional bisnis,” jelasnya.

Tata menyebut model ini dirancang agar pekerja migran bisa memiliki bisnis tanpa harus menunggu pulang ke Indonesia. Dengan begitu, uang yang mereka hasilkan tidak habis untuk konsumsi, tetapi berputar menjadi aset yang produktif.

Siap Mendunia

Saat ini, Migimo disebut telah memiliki sekitar 140 pengguna aktif, dengan layanan yang digunakan terutama oleh pekerja migran dari kawasan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong. Di beberapa negara penempatan pekerja migran tersebut, juga terdapat agen di antaranya termasuk Jepang dan Taiwan.

“Agen Migimo ini akan membantu para pekerja migran secara langsung untuk melakukan proses remitansi secara tunai. Hal ini akan memudahkan para pekerja di luar negeri yang masih menerima pembayaran gaji secara tunai di negara penempatan,” terang Tata.

Digital Banking Bagi Pekerja Migran

Dalam lima tahun ke depan, Tata menargetkan Migimo berkembang menjadi digital banking bagi Pekerja Migran Indonesia, khususnya dalam pelayanan keuangan digital yang fokus pada kebutuhan pekerja migran.

Namun tantangannya bukan hanya teknologi, melainkan juga pembiayaan dan regulasi. Meski begitu, ia optimistis Migimo dapat melakukan upgrade teknologi untuk memperluas layanan untuk memperluas jangkauan tak hanya di wilayah Asia, melainkan juga Eropa hingga Timur Tengah.

Oleh karena itu, Tata juga menaruh harapan besar kepada pemerintah. Beberapa kali, Tata menyampaikan gagasan terkait remitansi, pemberdayaan, perlindungan, hingga skema asuransi bagi pekerja migran kepada pemerintah terkait. Ia berharap pemerintah memberi ruang lebih besar bagi inovasi anak bangsa yang datang dari pengalaman langsung para purna pekerja migran seperti dirinya.

“Beri kami kesempatan. Ini bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk kita semua. Dari pekerja migran untuk pekerja migran,” harap Tata..

Pada akhirnya, Migimo hadir bukan hanya sebagai aplikasi remitansi. Ia dibangun sebagai sistem sekaligus jembatan untuk mengembalikan manfaat ekonomi kepada mereka yang paling layak menerimanya, tak lain untuk kedaulatan remitansi Pekerja Migran Indonesia. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply