June 22, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Lelaku Maya, Berimbas Nyata

7 min read

ApakabarOnline.com“SHOCK sihh, yang harus pulang menurut vokal yang terendah harusnya sih Femila bukan Joy, yah mau gimana lagi ini kan voting pemilihan Indonesia, SUKSES TERUS JOYYY!!”

“Joy bisa tuker sama Femila ga sih, Femila aja yang out, Joy balik.”

“Yg modal cantik doang minggu depan waktunya pulang ya, ini lomba nyanyi please tolong!!”

“Udah gais gausah nonton lagi, parah yg bagus2 malah pada keluar, gila bener2 spesial soalnya bukan bersaing suara tp bersaing gudluking WAKAKAKA.”

“Harusnya yang pulang Femila sama Azhardi wkwkwkwk.”

“Yang modal cakep doang kaya Femila plis minggu depan pulang.”

Kalimat-kalimat di atas hanyalah beberapa contoh kecil dari 8.000-an komentar warganet yang membanjiri sebuah foto dari akun Instagram ajang pencarian bakat bernyanyi Indonesian Idol @indonesianidolid pada Selasa, 26 Januari 2021, dini hari.

Pada hari itu, kompetisi bernyanyi yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta harus memulangkan dua dari tiga belas kontestan akibat rendahnya perolehan suara. Dua orang itu, menurut banyak warganet, merupakan salah dua kontestan terbaik di musim ke-11 ini.

Ungkapan kekecewaan pun bertubi-tubi datang menyerbu akun media sosial Indonesian Idol. Bahkan, tidak hanya menumpahkan kekecewaan, sejumlah warganet pada akhirnya mulai menyalahkan kontestan-kontestan lain (yang dianggap tidak kompeten) atas pulangnya dua kontestan ini.

Akhirnya, pertengkaran di kolom komentar pun tak terelakkan. Warganet pun saling melemparkan pendapat dan argumen. Masing-masing membela idola pilihannya.

Satu dasawarsa lalu, keriuhan ini mungkin belum seperti sekarang. Ya, berkembangnya era digital dan teknologi informasi mendorong munculnya beragam platform media sosial.

Media sosial membuat kita, sebagai pengguna, mudah menyampaikan apa yang ada dalam kepala kepada dunia, tanpa sekat tanpa batas waktu. Ketik perasaan dan apa yang ada di pikiran, posting, dan voila, seketika itu juga isi benak kita bisa dilihat manusia sejagat.

Segala kemudahan untuk berbagi ini, di satu sisi membuat media sosial bisa menjadi wadah yang efektif untuk berkreasi, berpromosi, dan menjadi cara penyelenggara acara untuk berkomunikasi dengan audiensnya. Seperti yang dilakukan oleh Indonesian Idol.

Akan tetapi, kemudahan interaksi ini pun bukan tanpa risiko. Selain pujian, hujatan kepada para kontestan pun kerap datang dari warganet. Hujatan-hujatan ini tampak sulit dikendalikan oleh “Indonesian Idol” sebagai pemilik akun media sosial.

Namun, rasanya agak naif jika harus bilang pihak Indonesian Idol tak tahu konsekuensi dari dibukanya lapak komentar di media sosialnya. Bisa jadi, keriuhan perang komentar tersebut justru memang disengaja untuk tercipta, demi menaikkan engagement dari acara yang sedang digelar.

Dengan terus dibicarakan atau tak tertutup kemungkinan menjadi viral, jumlah viewer pada postingan acara ke depannya bisa terus tinggi. Ujungnya, acara tersebut bisa sukses, menarik banyak sponsor dan endorsement, hingga cuan yang lumayan dari monetisasi akun medsos.

Mau tak mau, ajang pencarian bakat bernyanyi memang lebih dari sekadar kompetisi bernyanyi. Di luar sisi bisnis pertunjukan, bagi peserta dan penonton, ajang ini bisa menjelma menjadi ajang uji ketahanan mental dari beringasnya jari warganet.

 

Perundungan Siber

Usia para kontestan Indonesian Idol masih tergolong muda. Rentang usia mereka mulai dari 17 hingga 26 tahun. Pada kisaran usia ini, umumnya seseorang sedang mengembangkan berbagai potensi dalam dirinya.

Sebagian masih bersekolah, kuliah, atau menjadi pekerja pemula. Mereka kerap mencoba hal baru, membentuk identitas diri, mengasah keterampilan, belajar mengelola emosi, dan bersosialisasi dengan sebaya.

Para kontestan juga masuk ke dalam kelompok usia pengguna media sosial termasif di Indonesia. Laporan Statista yang dirilis Februari 2020 menunjukkan usia 25-34 tahun merupakan kelompok usia pengguna media sosial terbanyak dengan pembagian gender 20,6% laki-laki dan 14,8% perempuan. Diikuti oleh kelompok usia 18-24 tahun dengan pembagian 16,1% laki-laki dan 14,2% perempuan.

Sayangnya, pada fase usia para kontestan ini, selain jadi ajang aktualisasi diri, media sosial juga menyimpan bahaya tersendiri. Media sosial bisa menjadi bumerang yang menghajar balik anak-anak muda, bahkan menghancurkan hidupnya. Sudah banyak berita perundungan membuat anak rendah diri hingga memutuskan bunuh diri.

Analisis oleh Heri (2020) terhadap sembilan jurnal penelitian kredibel, menghasilkan temuan bahwa terdapat pengaruh negatif terhadap kesehatan mental remaja akibat kurang tepat dalam bermedia sosial. Pengaruh negatif itu berupa gangguan kecemasan, gangguan citra tubuh, perundungan siber, hingga bunuh diri.

Sejak dulu, masalah perundungan siber memang telah menjadi bagian tak terelakkan dari ekosistem digital, terutama media sosial. Pada 2012, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) melakukan penelitian pada 400 anak dan remaja usia 10-19 tahun di 11 provinsi di Indonesia. Dari survei tersebut, data yang didapatkan menunjukkan 13% anak pernah mengalami perundungan siber.

Mereka menerima perundungan siber dalam bentuk hinaan, ancaman, hingga dipermalukan, baik di media sosial maupun lewat pesan teks. Ironisnya, hal ini berefek panjang. Dari sejumlah korban tersebut, sebanyak 9% mengaku pernah juga mengirimkan pesan hinaan dan kemarahan lewat media sosial dan 14% lewat pesan teks. Artinya, selain bisa sebagai korban, anak dan remaja juga bisa sekaligus menjadi pelakunya sendiri.

Kemudian pada 2018, UNICEF kembali melaporkan, remaja korban perundungan siber di Indonesia jumlahnya mencapai 41-50%. Pada tahun yang sama, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 206 laporan kasus perundungan siber, termasuk di antaranya penghinaan fisik.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak diterimanya laporan pertama pada 2015. Sebelum 2015, tidak ada satu laporan pun yang masuk.

Kini, seiring dengan berkembangnya teknologi dan semakin bertambahnya pengguna internet, kasus perundungan siber pun kian meningkat. Laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menunjukkan hingga kuartal kedua 2020, jumlah pengguna internet Indonesia menembus angka 196,7 juta, bertambah sekitar 25,5 juta pengguna dibandingkan tahun lalu. Angka tersebut mencakup 73,7% dari populasi Indonesia.

Jika merujuk pada angka-angka di atas, perundungan di media sosial tentu bukanlah hal kecil. Betapa tidak, 60% pengguna medsos berada di kelompok usia muda (18-34 tahun). Jumlahnya dipastikan mencapai puluhan juta. Jika seperempatnya saja mengaku pernah di-bully, jumlahnya masih berkisar di angka jutaan.

Jumlah anak muda yang pernah ter-bully di medsos ini tentu bukan sekadar statistik. Mereka adalah manusia muda yang punya kehidupan dan masa depan. Perundungan yang diterimanya bisa saja memengaruhi kualitas hidupnya.

Soal perundungan, survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun lalu menyebutkan, sekitar 31,8% responden menjawab akan membiarkan jika dilecehkan atau di-bully di media sosial. Kemudian, sebanyak 6,7% melaporkan ke pihak yang berwajib. Dalam jumlah yang sama, responden memilih untuk mengahapus perundungan tersebut dan 4,2% membalasnya.

Sejumlah pilihan tersebut, tentu bukan bebas efek samping. Bisa saja ada dampak negatif ke perilaku seseorang yang kerap mendapat perundungan. Entah karena dendam atau ingin membalas dengan cara yang salah.

Patut diingat, meski perundungan siber “hanya” dilakukan di dunia maya, dampak yang dialami korban juga bisa terlihat di dunia nyata. Apalagi, untuk generasi digital native saat ini, buat mereka dunia maya sudah seolah menjadi dunia nyata. Gegara postingan tidak atau kurang mendapat respon saja, rasa sedih, kepala pusing, dada sesak sampai kurang nafsu makan, sangat bisa terjadi.

Pada masa remaja, perubahan sosial emosional memang sedang terjadi. Ketidakstabilan hormon, emosi dan relasi sosial, bisa saja menimbulkan rasa insecure hingga depresi yang berdampak negatif buat jiwa maupun raga.

Penelitian oleh Fifyn dkk (2020) menunjukkan, ada hubungan yang negatif dan signifikan antara perundungan siber dan kesehatan mental remaja. Semakin tinggi pengalaman perundungan siber dialami, semakin rendah kesehatan mental pada remaja.

Begitu pula sebaliknya. Semakin rendah pengalaman perundungan siber, maka semakin tinggi pula kesehatan mental pada remaja. Jika tingkat kesehatan mentalnya tinggi, remaja akan merasa tentram, damai, bahagia, dan yakin bahwa dirinya diinginkan dan dicintai.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh sejumlah penelitian terdahulu yang menemukan adanya hubungan antara perundungan siber dan masalah kesehatan mental remaja, seperti kepuasan hidup, kesejahteraan emosional, dan perilaku sosial. Bahkan, korban bisa saja lebih merasakan depresi, kecemasan, dan kesulitan sosial akibat perundungan siber daripada perundungan secara langsung.

Tak bisa dimungkiri pula, mereka yang lebih dikenal publik secara luas seperti selebriti, figur publik, dan politikus, kerap menjadi sasaran yang lebih empuk untuk perundungan siber. Termasuk para kontestan Indonesian Idol yang notabene wajah-wajah baru di industri hiburan Indonesia.

Penampilan mereka yang saling dibanding-bandingkan acap kali menimbulkan kericuhan antarwarganet. Para warganet mungkin bisa saja menganggap apa yang mereka ketik tidaklah berarti apa-apa, hanya iseng, cuma angin lalu, atau sekadar iseng belaka. Padahal, sebesar apa potensi dampak bagi kontestan yang mendapat hujatan, siapa yang tahu?

 

Melindungi Diri Sendiri

Instagram, sebagai media sosial yang tidak terpisahkan dari perundungan siber, tampak menyadari keprihatinan ini. Demi mendukung kesehatan mental dan memberantas perundungan siber remaja, Instagram melakukan kampanye #RealTalk bersama sejumlah organisasi di Indonesia (Antara, Oktober 2020).

Melalui kampanye ini, para orang tua diajak untuk turut peduli pada kondisi kesehatan mental remaja, apalagi di masa pandemi yang serba sulit ini. Dengan berbagai fitur keamanan di Instagram, seperti memblokir, menghapus komentar, serta membatasi interaksi negatif, para orang tua diharapkan dapat membantu remaja terkait kesehatan mentalnya.

Ya, kita memang tidak bisa mengendalikan jari-jari orang lain, tapi kita selalu punya pilihan untuk menjaga dan melindungi kesehatan mental kita sendiri di dunia maya. Berbagai opsi di atas bisa langsung diterapkan sekarang juga.

Dalam konteks para kontestan muda Indonesian Idol, mereka selalu punya pilihan untuk tidak repot-repot meluangkan waktu membaca kolom komentar yang hanya ingin menjatuhkan. Semua demi kesejahteraan emosional diri sendiri.

Satu hal yang pasti, dampak perundungan siber tidak akan bisa diukur dari tingkat keparahannya. Sebab, kondisi mental setiap orang berbeda-beda. Satu bentuk perundungan yang sama, hasilnya bisa berbeda-beda pada tiap orang. Jadi, tidak ada istilah “berlebihan“ ketika melihat dampak yang terjadi pada seseorang akibat perundungan siber.

Dunia maya bagai dua sisi mata pisau. Kita bisa sangat terbantu, bahkan mendapatkan penghasilan dari sana. Namun, di sisi lain kita juga bisa dirugikan dengan keberadaannya. Memilih untuk tidak berselancar di sana? Mungkin saja. Akan tetapi, relakah kita teralienasi dari “peradaban” dan dicap kuper atau kudet?

Satu yang patut diingat, apapun kemajuan peradaban, selalu ada ekses dari perubahan yang terjadi. Kita bisa terus selaras dengan perubahan itu jika kita mampu adaptif tanpa konfrontatif.

Anggap saja, medsos adalah taman hiburan atau theme park. Selain banyak wahana permainan yang seru, pelbagai orang dengan beragam keunikannya juga berbaur menjadi satu. Jangan sradak-sruduk menyenggol orang jika tak ingin memantik keributan.

Jika tersenggol, maafkan saja. Pun jika melihat orang lain tersenggol orang yang jalan sradak-sruduk tersebut, tak perlu ikut menghakimi. Siapa tahu, ia sradak-sruduk karena rasa mulas di perutnya sudah tak tertahan lagi.

Penulis Gisantia Bestari, SKM, Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

Advertisement
Advertisement