Literasi yang Dikuasai Calon PMI Jadi Kunci Pelindungan Sejak Pra Pemberangkatan
2 min read
JAKARTA – Balai Pelayanan Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Utara menyelenggarakan Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) yang akan bekerja di Malaysia, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memastikan setiap Calon Pekerja Migran Indonesia agar memiliki kesiapan pengetahuan, mental, serta pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebelum memasuki negara penempatan.
OPP merupakan tahapan wajib yang harus diikuti Calon Pekerja Migran Indonesia sebagai bagian dari proses penempatan secara prosedural.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pembekalan mengenai budaya dan aturan di negara tujuan, isi perjanjian kerja, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Materi OPP juga bertujuan membangun kesiapan psikologis dan kemampuan beradaptasi sehingga pekerja migran dapat bekerja secara aman dan produktif.
Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dr. Nani Nurani Muksin, yang hadir sebagai pemateri menegaskan, bahwa OPP bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif, melainkan menjadi ruang pembelajaran yang menentukan kualitas pelindungan pekerja migran sejak sebelum berangkat.
“OPP harus dipahami sebagai investasi pengetahuan bagi calon pekerja migran. Mereka tidak hanya dibekali informasi tentang pekerjaan, tetapi juga pemahaman mengenai hak, kewajiban, budaya negara tujuan, serta langkah-langkah yang harus dilakukan apabila menghadapi persoalan selama bekerja di luar negeri,” ujarnya saat memberikan materi di BP3MI Sumatera Utara.
Menurut Nani, tantangan yang dihadapi pekerja migran saat ini semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi informasi dan berbagai modus kejahatan lintas negara. Karena itu, literasi hukum, literasi digital, dan kemampuan berkomunikasi menjadi bekal penting yang harus dimiliki setiap Calon Pekerja Migran Indonesia.
“Semakin tinggi literasi yang dimiliki calon pekerja migran, semakin besar pula kemampuan mereka untuk mengambil keputusan yang tepat, menghindari informasi palsu, memahami kontrak kerja, dan melindungi diri dari berbagai bentuk eksploitasi,” katanya.
Ia menambahkan, pelindungan pekerja migran tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi perguruan tinggi, masyarakat, perusahaan penempatan, dan keluarga. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem migrasi yang aman dan berkelanjutan.
Menurut Nani, melalui penyelenggaraan OPP, BP3MI Sumatera Utara diharapkan dapat terus memperkuat kualitas layanan pra penempatan sehingga pekerja migran Indonesia yang ditempatkan di Malaysia memiliki kompetensi, kesiapan mental, serta pemahaman yang memadai untuk bekerja secara profesional sekaligus menjaga nama baik bangsa Indonesia di luar negeri.
“Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kolaborasi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dalam memperkuat pelindungan menyeluruh bagi pekerja migran Indonesia, dimulai sejak tahapan pra-penempatan melalui edukasi, peningkatan literasi, dan penguatan kapasitas calon pekerja migran” tutup Nani. []
