May 9, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Namanya Virus Nipah (NiV), Oleh Ahli Disebut Lebih Berbahaya Dibanding Corona

3 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

JAKARTA – Belum lama ini, para ilmuwan berhasil menemukan virus baru yang tidak kalah bahayanya dari corona, yaitu virus Nipah (NiV).

Peneliti senior di Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre di Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, sudah bergerak mencari ancaman pandemi berikutnya, bahkan ketika dunia masih bergulat dengan COVID-19.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah virus Nipah. Tingkat kematian yang disebabkan virus Nipah dilaporkan mencapai 75 persen dan saat ini belum ada vaksin. Sementara dunia fokus pada COVID-19, para ilmuwan bekerja keras untuk memastikan itu tidak menyebabkan pandemi berikutnya.

Ada beberapa fakta yang menjadikan virus Nipah lebih seram dari pada virus COVID-19.

Masa inkubasi penyakit yang disebabkan oleh virus ini dilaporkan selama 45 hari dalam satu kasus. Berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, bahkan tidak sadar mereka sakit, sehingga dapat menyebarkannya.

Menurut catatan WHO, virus Nipah dapat menular ke manusia dari hewan (seperti kelelawar atau babi), makanan yang terkontaminasi, dan juga dapat ditularkan langsung dari manusia ke manusia.

Seseorang yang terinfeksi virus Nipah mungkin mengalami gejala pernapasan, termasuk batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, radang otak, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang dan kematian. Ini adalah penyakit yang ingin dicegah oleh WHO agar tidak menyebar.

Sebelumnya Wacharapluesadee menemukan fakta bahwa kelelawar bisa menimbulkan ancaman baru, seperti penyakit mematikan lainnya yang dapat menular ke manusia atau zoonosis seperti halnya COVID-19.

Wacharapluesadee menjelaskan bahwa wilayah Asia yang tropis dan memiliki keanekaragaman hayati merupakan rumah bagi kumpulan besar patogen, sehingga akan meningkatkan kemungkinan munculnya virus baru.

Meningkatnya populasi manusia dan tingginya kontak antara manusia dengan hewan liar di wilayah Asia juga meningkatkan faktor risiko.

 

Kemenkes RI Minta Mewaspadai Virus Nipah

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mewaspadai potensi penyebaran virus nipah ke Indonesia dari hewan ternak babi di Malaysia.

“Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus nipah dari hewan ternak babi di Malaysia, melalui kelelawar pemakan buah,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Didik Budijanto dikutip Antara, Rabu (27/01/2021).

Menurut dia, sampai saat ini kejadian infeksi virus nipah belum pernah dilaporkan di Indonesia walaupun pada 1999 pernah terjadi wabah virus nipah yang menyebabkan kematian pada ternak babi dan manusia di Semenanjung Malaysia.

Dia menyatakan, Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus tersebut dari hewan ternak babi di Malaysia melalui kelelawar pemakan buah. Sebab, beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara yang berdekatan dengan Malaysia.

“Sehingga ada kemungkinan penyebaran virus nipah melalui kelelawar atau melalui perdagangan babi yang ilegal dari Malaysia ke Indonesia,” tegas Didik.

Ditambahkannya, sebagai upaya mencegah penularan virus itu, pemerintah sudah berupaya mencegah perdagangan ternak babi ilegal dari daerah yang terinfeksi. Selain itu, pemerintah juga melakukan prosedur pengetatan ekspor dan impor komoditas babi dan produk antara Indonesia dan Malaysia.

“Menurut Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, pemerintah Indonesia hanya menerima kiriman yang disertai dengan sertifikat kesehatan dan dikeluarkan oleh Departemen Layanan Hewan Malaysia untuk menyatakan bahwa babi yang diekspor sehat,” urainya.

Sementara dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosis, termasuk virus nipah, Kemenkes juga melakukan pendekatan One Health secara terintegrasi dengan Kementerian Pertanian, dalam hal ini Dirjen Peternakan dan kesehatan Hewan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Implementasi pendekatan One Health ini adalah salah satunya Integrasi Sistem Informasi Surveilens antara Kemenkes, Kementan dan LHK. Disamping itu juga melakukan kolaborasi dalam perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi program pencegahan penanggulangan penyakit,” pungkasnya. []

 

Advertisement
Advertisement