November 28, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sampai Lupa Bahasa dan Cara Berpakaian Indonesia, Belasan Tahun Tidak Pulang, Begini yang Dialami PMI Ini

2 min read
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Bertahun-tahun lamanya berada di negara orang dengan budaya dan bahasa yang sama sekali berbeda, benarkah bisa membuat seseorang “lupa” dengan bahasa dan budaya negara sendiri ?

Kejadian, yang menimpa pekerja migran perempuan saat pulang ke kampung halaman menjadi sorotan. Ada yang karena pakaian yang dikenakan, berubah 180 derajat dengan pakaian saat dia belum menjadi pekerja migran. Bukan pada kualitas atayu harga, namun pada mode pakaian tersebut menutupi auratnya menurut standart hidup di pedesaan asalnya.

Ada pula yang tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia, karena belasan tahun tidak pernah menggunakannya selama berada di negara orang.

Dastin binti Tasja misalnya, yang telah dinyatakan hilang oleh keluarganya selama 13 tahun. Ketika ditemukan, ternyata ia telah bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI)  di kota Amman, Yordania.

Namun, wanita asal Indramayu ini kemudian kesulitan berkomunikasi dengan keluarganya. Bagaimana tidak, karena telah lama di Yordania, Dastin lupa dan tidak bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Nasib yang sama juga dialami oleh Nurfaiyzah binti Casma Ali. Ia dinyatakan hilang oleh keluarga sama 18 tahun sebelum akhirnya ditemukan di Arab Saudi. Ketika ditemui pihak KJRI Jeddah, Nurfaiyzah tak mampu lagi berbahasa Indonesia.

Lalu, bagaimana hal unik ini bisa terjadi? Benarkah karena terlalu lama tidak menggunakan Bahasa Indonesia seseorang dapat melupakannya begitu saja?

Profesor linguistik dari University of Essex, Dr. Monika Schmid, mengutarakan bahwa kejadian tersebut terjadi karena seseorang “lupa” akan bahasa Indonesia. Peristiwa tersebut dinamakan atrisi bahasa dalam dunia linguistik.

Mereka yang mengalami atrisi bahasa sebenarnya tetap mampu menggunakan bahasa ibunya. Namun, karena terlalu lama tidak digunakan, orang tersebut lupa akan kosakata serta tata bahasa yang benar dalam bahasa tersebut.

Dosen Bahasa Rusia dari Temple University, AS, Dr. Aneta Pavlenko, mengungkapkan bahwa paparan atas bahasa lain membuat seseorang tidak memperoleh kesempatan untuk menggunakan bahasa ibu. Ini membuat atrisi bahasa semakin mungkin terjadi.

Pavlenko juga mengakui bahwa dirinya tidak kebal terhadap atrisi bahasa. Ia sering kali kesulitan menggunakan bahasa Rusia ketika berada di Ukraina karena terlalu lama tinggal di AS.

Melupakan bahasa ibu, menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2007, merupakan salah satu strategi adaptasi. Dengan melupakan bahasa yang sudah lama dikenal, maka manusia akan menjadi lebih mudah untuk mempelajari bahasa yang baru.

Penelitian ini dilakukan pada orang-orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya, namun sedang mempelajari bahasa Spanyol saat kuliah, setidaknya selama satu tahun.

Mereka diminta untuk menyebutkan nama-nama benda dalam bahasa Spanyol beberapa kali. Semakin sering mereka diminta untuk menggunakan bahasa Spanyol, mereka malah menjadi kesulitan untuk mengingat nama benda tersebut dalam bahasa Inggris.

Selain itu, menurut Noam Chomsky, seorang ahli bahasa terkenal dari Amerika Serikat, meskipun seseorang lupa pada bahasa ibunya, mereka akan tetap bisa mempelajari bahasa ibunya lagi, dan dalam waktu yang relatif cepat.

“Pasti masih ada sisa ingatan bahasa mereka, hal tersebut tidak bisa dihapus dari otak,” kata Chomsky dilansir Psychology Today. []

Advertisement