April 17, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Waspada, Kecanduan Media Sosial Berpotensi Menyebabkan Gangguan Mental

2 min read

JAKARTA – Sebuah penelitian yang melibatkan 22.423 individu berusia 20 tahun di 297 kabupaten/kota di Indonesia menyoroti dampak penggunaan media sosial, termasuk Facebook, Twitter, dan aplikasi pesan instan, terhadap kesehatan mental.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan media sosial dapat diklasifikasikan sebagai problematic internet use atau masalah penggunaan internet yang berlebihan, dengan dampak negatif terhadap kesehatan mental, sesuai dengan temuan global sebelumnya.

Menurut Pakar Psikologi dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana MSc MPsi, kecanduan media sosial dapat dikenali melalui indikator seperti durasi, intensitas, dan frekuensi penggunaan yang melebihi batas wajar. Hal ini juga mencakup faktor-faktor seperti obsesi, pengabaian terhadap aktivitas di luar media sosial, dan kehilangan kontrol.

“Atika menjelaskan bahwa penggunaan yang melebihi 5 jam sehari dapat dianggap sebagai problematik, terutama jika seseorang kehilangan kontrol dan terobsesi untuk terus mengakses platform tersebut. Faktor lain yang mencakup kecanduan media sosial adalah pengabaian terhadap aktivitas di dunia nyata, di mana individu lebih memilih terlibat dalam kehidupan maya daripada kehidupan nyata,” ungkapnya.

Atika menyoroti dampak negatif secara fisik dan mental dari penggunaan internet yang berlebihan. Faktor-faktor seperti paparan layar yang terlalu lama, posisi duduk yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan gangguan tidur dan kelelahan mata. Secara mental, kecanduan media sosial dapat menyebabkan depresi, kecemasan, dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) karena ketidakmampuan mengontrol perilaku berulang untuk mengakses media sosial.

Dalam mengatasi kecanduan, Atika menekankan bahwa terapi psikologis yang umumnya digunakan lebih berfokus pada modifikasi perilaku. Ini melibatkan psikoedukasi dan pembentukan pola pikir yang lebih sehat. Terapi juga mencakup identifikasi alasan di balik penggunaan media sosial sebagai koping serta memberikan alternatif coping yang lebih sehat.

“Terapi psikologis untuk kecanduan, baik itu substance maupun non-substance, lebih banyak berbasis terapi perilaku. Diberikan kepada individu yang kecanduan, termasuk dengan psikoedukasi. Kita percaya bahwa perilaku itu adalah produk dari pola pikir,” jelasnya.

“Pentingnya memberikan alternatif bagi individu yang cenderung menggunakan media sosial sebagai solusi atas masalah atau stres yang mereka hadapi. Strategi coping yang terus-menerus menggunakan media sosial dapat memperburuk masalah kesehatan mental mereka,” tambahnya. []

Advertisement
Advertisement