June 13, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Aneka Menu Berbasis Jamu, Warisan Leluhur yang Manfaat dan Keuntungannya Tetap Tak Pernah Layu

9 min read

JAKARTA – Seiring perebakan pandemi, jamu, empon-empon, rempah, herbal, rimpang, loloh (Bali) kembali diburu. Minuman tradisional yang diolah dari rempah-rempah asli Indonesia tersebut, diyakini ampuh untuk menjaga stamina dan meningkatkan imun di tengah wabah.

Pada awal pandemi Maret 2020 silam, harga beberapa rempah bahkan sempat melonjak drastis karena tingginya permintaan secara tiba-tiba. Di beberapa pasar tradisional di sejumlah daerah, jahe merah yang biasanya dibanderol Rp40 ribu per kg melonjak menjadi Rp80 ribu per kg sampai di atas Rp100 ribu per kg.

Temulawak yang biasanya dihargai Rp20 ribu per kg juga sempat tembus Rp40 ribu per kg. Begitu juga dengan sereh yang biasanya hanya dijual Rp5.000 per kg, melesat harganya menjadi sekitar Rp15 ribu per kg. Kala itu, tak ada patokan pasti, setiap pedagang di berbagai pasar, bisa mematok kenaikan harga yang beragam, sesuai dengan pasokan yang datang dan jumlah permintaan.

Meski kemudian harga rempah-rempah tersebut berangsur turun, permintaannya masih tetap tinggi, setidaknya jika dibandingkan kondisi sebelum pandemi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno bahkan menyebutkan jamu sebagai Pandemic Winner.

Ini karena di tengah daya beli melesu, hingga membuat banyak bisnis ambyar, permintaan jamu justru melejit. Dalam keterangan video yang diunggah di akun Instagram-nya bertajuk “Produk ekonomi kreatif yang satu ini pantas disebut Pandemic Winner”, Sandiaga mengatakan, bisnis jamu saat ini tengah naik daun, seiring lonjakan permintaan masyarakat terhadap produk kesehatan.

Ia mengaku, banyak pengusaha jamu yang ditemuinya di berbagai destinasi wisata, mengalami peningkatan omzet yang drastis. Bahkan, ada yang omzetnya naik sampai 300%.

“Ada juga mereka yang terkena PHK lalu beralih menjadi penjual jamu, dan sekarang bisa membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar,” tulis Sandiaga pada keterangan video di akun Instagram-nya, dikutip pada Kamis (11/02/2021).

Menurutnya, jamu sebagai kearifan lokal menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan. Ini karena banyak orang berupaya menaikkan imun saat berhadapan dengan ancaman covid-19 dengan fitomfarmaka dan menghindari obat pabrikan.

 

Banyak Khasiat

Sejak turun temurun, rempah-rempah memang sudah dipercaya memiliki banyak khasiat untuk kesehatan atau menjaga stamina. Belakangan, penelitian menyebut jahe merah memiliki aktivitas immunomodulator yang bermanfaat mencegah dan membantu pemulihan dari virus corona.

“Secara umum, virus corona memiliki gejala peradangan berlebihan pada paru-paru. Dengan aktivitas antiinflamasi yang dimiliki jahe merah, dapat meredakan gejala tersebut,” jelas Masteria Yunovisla Putra, Kepala Kelompok Penelitian Center for Drug Discovery and Development Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, beberapa waktu lalu.

Temu ireng, bahkan sudah mendapatkan paten sebagai obat asma. Rimpang yang dikenal sebagai obat batuk tradisional ini terbukti mengandung flavonoid yang ampuh menyembuhkan radang dan memiliki efek anti bakteri, anti-virus dan antiseptik.

Dilansar dari Antara, Swandari Paramita, peneliti di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, menyebutkan paten terkait temu ireng sebagai obat asma menunjukkan penelitian rimpang ini sudah tergolong maju.

Ia pun menilai, kemampuan mengobati asma, menjadikan temu ireng bisa berperan sebagai obat covid- 19 berdasarkan gejala sesak napas. Tak heran, harga rimpang ini pun sempat melonjak. Harga jahe merah sempat melejit karena tingginya permintaan.

Beralihnya perhatian sebagian besar orang ke ramuan tradisional, tak pelak membuat penjual jamu dan ramuan herbal tradisional ketiban rejeki. Pasangan pengusaha minuman rempah Suyanto dan Ani Muslimah, misalnya, merasakan betul berkah tersebut. Begitu pandemi merebak, minuman rempah yang dilabeli Asri Food tersebut, laris manis diburu pembeli.

“Ada peningkatan tajam. Hampir 300%,” ujar Ani, Minggu (14/02/2021).

Ani menyebutkan, pertumbuhan itu jauh di atas pertumbuhan sebelumnya, sebesar 50% per tahun. Hingga kini, Asri Food terjual lebih dari 100 bungkus per minggu.

Asal tahu saja, Asri Food adalah minuman ekstrak rempah yang mulai diproduksi sejak 2015 lalu. Untuk membuatnya, rimpang segar diparut, lantas diperas. Nah, air perasan kemudian didiamkan hingga patinya terkumpul di bawah.

Air dan pati kemudian dipisahkan. Air diproses menjadi kristal melalui pemanasan, sedangkan pati dibuang jadi ampas agar aman dikonsumsi. Suyanto menyebutkan, proses produksi itu sesuai dengan ilmu pelatihan yang diikutinya.

“Dari pelatihan itu diberi tahu, patinya itu membuat ginjal bekerja lebih berat. Makanya patinya dibuang,” jelasnya, Senin (15/02/2021).

 

Sekoci Penyelamat

Tak hanya menciptakan lonjakan omzet bagi pemain lama, jamu juga berhasil menjadi sekoci penyelamat bagi Niken Ari Purwanti, pengusaha es potong asal Jombang, Jawa Timur. Pandemi membuat bisnis es jadul yang ia tekuni mendadak terhenti, karena sekolah yang selama ini menjadi jadi lokasinya berdagang, terpaksa tutup, proses belajar mengajar berpindah ke rumah.

Masyarakat pun cenderung menghindari es, karena khawatir menurunkan imun. Padahal, di tengah produksi dan penjualan Es Otiek yang mendadak terhenti, Niken masih harus membayar gaji dan biaya operasional usahanya.

Memutar otak, bisnis jamu dan minuman rempah yang tengah naik daun pun dilirik. Semula, Niken hanya menjadi reseller wedang uwuh, minuman rempah asal Jogja. Diberi nama uwuh, lantaran penampakannya memang mirip uwuh alias tumpukan sampah. Ada aneka daun kering, serutan kayu hingga potongan rimpang kering.

Lama-lama, permintaan meningkat. Dari hanya 10 pack menjadi puluhan pack. Bahkan, ia sempat kewalahan memenuhi permintaan, lantaran tempat Niken belanja wedang secara kulakan juga tengah menghadapi lonjakan permintaan.

Pesanan Niken pun kerap tak terlayani. Hingga akhirnya, ia memutuskan membuat sendiri produknya, yang diberi merek Ledalede.

Langkahnya ini bisa dibilang tepat. Peralihan bisnis yang digelutinya mampu menjadi sekoci penyelamat. Biaya operasional usahanya bisa tertutupi, di saat produk andalannya, Es Otiek, tak mencetak penghasilan.

“Bisa bayar karyawan juga, bisa bayar listrik,” tuturnya, Minggu (14/02/2021).

Hal yang sama dirasakan Kartika Runiasari. Ibu tiga anak ini menjadikan jamu sebagai ladang penghasilan baru, di saat pandemi mengikis penghasilan keluarga. Maklum saja, ia dan suami terkena dampak pandemi berupa pengurangan gaji.

“Kami pikir ini pasti akan serba enggak enak deh, kondisi kantor kami berdua. Terus akhirnya kami cari peluang usaha yang enggak hanya sesaat atau Cuma pas pandemi saja sih. Inginnya long lasting sampai besar,” papar Tika, sapaan akrabnya, Minggu (14/02/2021).

Dimulai dengan memproduksi 12 botol jamu, kini Tika berhasil mengumpulkan omzet Rp500 ribu per hari dari empat varian jamu yang ia beri merek Wangi Rempah 7617.

 

Modal Sederhana

Memulai bisnis jamu atau minuman rempah, sejatinya memang tak memerlukan modal besar. Ani, Niken dan Tika mengaku memulai usahanya dari kecil. Mereka memanfaatkan peralatan masak yang ada di dapur masing-masing.

“Dulu modal kami hanya Rp3 juta,” jelas Ani.

Modal itu sebagian besar habis untuk membeli bahan baku. Ani memanfaatkan parutan, panci, saringan, wajan dan alat lainnya yang sudah ada di rumah.

Memanfaatkan alat yang ada di rumah, membuat modal bisa ditekan. Kemudian, saat bisnis sudah mulai berkembang, Ani dan Suyanto baru melengkapinya dengan berbagai peralatan lain seperti mesin parut dan pemeras.

Kini, Asri Food yang telah memiliki dua orang pegawai berniat membeli mesin sachet untuk mengemas serbuk rempah.

Penambahan alat sesuai pertumbuhan bisnis juga dilakukan Tika. “Ya yang di rumah aja. Sambil jalan, kalau perlu beli sesuatu, baru beli. Misalnya mau tambah varian, ternyata butuh alat A, ya sudah beli,” jelas Tika.

Meski modal tergolong minimal, menjalankan bisnis rempah atau jamu disebut para pengusaha di atas cukup menantang. Ada proses yang cukup menyita energi. Yakni, mencari formula yang pas hingga menemukan supplier bahan baku.

Niken, misalnya, mengaku setengah dari modalnya di kisaran Rp5 juta habis untuk trial error. Dari trial and error itulah, ia mengetahui, wedang uwuh berkualitas memerlukan jahe kering. Ia pun berjibaku mencari metode pengeringan yang pas agar jahe tak mudah berjamur.

“Karakter jahe lokal itu berair, susah dikeringkan. Hanya pakai matahari, enggak cukup kering. Dioven, bisa kering, tapi saat diseduh aroma jahe ndak ada. Diiris tipis dan dijemur pun hasilnya ndak bagus,” kisahnya.

Meski akhirnya menemukan metode yang pas, tak urung masa trial and error membuat Niken sempat mencecap kerugian. Ia terpaksa menerima returan dari pembeli lantaran jahenya berjamur. Namun, ia menganggap kerugian yang dialaminya sebagai biaya belajar.

Lain halnya Tika, yang mengaku harus menggunakan bahan baku tertentu agar jamunya terasa segar. Ada gula aren dan gula semut yang ia datangkan dari kampungnya di Banyumas. Lalu, ada jeruk lemon dari Pengalengan untuk varian sereh lemon.

“Enggak bisa pakai bahan lain, rasanya berubah. Misalnya ganti gula batok yang beli di warung, itu beda banget rasanya. Jeruknya juga gitu, kalau enggak ada jeruk itu, akhirnya enggak bikin,” ujarnya.

Ia memilih menghentikan sementara produksi saat bahan baku tak tersedia, lantaran Tika tak ingin konsumen beralih akibat rasa yang tak konsisten.

“Untungnya, pasokan dari teman, jadi bisa diandalkan,” serunya

Selain untuk mendapatkan bahan baku, Tika mengaku mengandalkan jejaring untuk marketing. Bahkan, di awal usaha berdiri, konsumen jamu produksinya berasal dari lingkungan dekat seperti tetangga atau teman kantor suami.

Jejaring juga diandalkan Niken maupun pasangan Suyanto dan Ani. Niken menyebutkan jaringan reseller ibu-ibu menjadi nadi utama penjualan, lantaran porsi lebih besar dari pada direct selling.

“Getok tular, awalnya kalau ada tamu saya kasih sampel. Lama-lama mereka jadi konsumen loyal,” jelas Suyanto.

 

Masih Ada Peluang

Hanya saja, pandemi yang berkepanjangan, membuat sebagian orang mulai tak begitu rutin lagi mengkonsumsi jamu. Demam jamu, minuman rempah dan herbal perlahan mulai surut. Permintaan setidaknya terlihat melandai jika dibandingkan bulan-bulan pertama pandemi merebak di Indonesia.

Niken yang pada saat puncak permintaan berhasil menjual 100–200 bungkus jamu per hari, kini hanya melayani 5–10 bungkus saja.

“Marketing memang enggak sekencang di awal,” kata Niken.

Aktivitas ekonomi masyarakat yang mulai menggeliat, membuat Niken kembali fokus pada bisnis semula, Es Otiek. “MIlih fokus ke situ karena ada tanggungan karyawan,” serunya.

Sama seperti Niken, Tika juga mengaku, penjualan tak setinggi awal pandemi. Persaingan yang kian ketat dengan kemunculan pemain baru, menjadi faktor lain. Belum lagi, harus menghadapi gempuran aneka minuman segar lainnya yang main bervariasi.

Meski begitu, keduanya yakin, masih ada peluang pasar bagi bisnis jamu dan minuman rempah.

“Ini kan melekat sama budaya kita. Peluang jangka panjang ada,” kata Niken.

Pandemi yang entah kapan akan berakhir, juga menjadi pemicu peluang terbuka. “Orang juga pingin sehat,” imbuh Tika.

Proyeksi itu setidaknya tergambar dari masih bergulirnya permintaan dari konsumen yang masih setia mengkonsumsi jamu.  Nina (43), ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Jakarta Timur mengaku, kebiasaannya membeli jamu masih terus berjalan.

Apalagi, sebagai penderita diabetes, Nina tidak berharap bisa mengikuti program vaksinasi. “Bener-bener harus dari diri sendiri menjaga imun. Jadi selain menjalankan protokol kesehatan ketat, saya mencoba memperbaiki jam tidur, enggak begadangan lagi. Makanan juga dijaga, sama rajin konsumsi jamu-jamuan. Cuma, emang belum rutin olahraga,” tuturnya.

Menjaga imun lewat jamu juga dipilih oleh Sakinah (19). Mahasiswa sebuah PTS di Jakarta ini semula tak terlalu doyan jamu karena rasanya yang dianggap anyir. Namun ancaman dari pandemi membuatnya melirik jamu sebagai warisan leluhur.

“Kebetulan ada teman yang jualan botolan gitu. Ringkas, tinggal minum aja. Awalnya aneh sih, harus minum air putih banyak setelahnya. Tapi, katanya bagus buat imun, jadi dipaksa juga minum. Lama-lama biasa juga,” ucapnya.

Kini, di rumahnya, Sakinah menyetok hingga 3 botol jamu saban minggu, dengan masih-masing botol bervolume 1 liter.  Ia rutin mengkonsumsi bersama sang ibu.

Zakir Machmud, pengamat sekaligus Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pun melihat, bisnis jamu masih menjanjikan. Ia menilai, kesehatan masih menjadi isu utama di masa pandemi. Keinginan masyarakat untuk tetap sehat dengan minuman herbal membuat celah bisnis jamu dan minuman rempah masih bisa digarap.

“Meskipun ada vaksin, itu hanya salah satu cara. Tetap 3M penting dilakukan, juga upaya untuk meningkatkan imun tubuh. Di sinilah jamu masuk. Ada kebutuhan,” katanya, Senin (15/02/2021).

Hanya saja, Zakir mewanti, produk jamu dan minuman rempah perlu di-upgrade lebih kekinian dan menarik minat masyarakat, agar bisa tetap eksis di tengah persaingan ketat. Menurutnya, upgrade bisa di lakukan dengan mempercantik kemasan, meragamkan varian rasa atau menambah komponen yang membuat bau langu jamu yang mengganggu bisa diminimalkan.

“Namanya diganti menjadi minuman rempah, biar lebih modern. Jadi perlu branding,” cetusnya.

Hal lainnya, kata Zakir, pengusaha jamu dan minuman herbal lainnya, disarankan bisa mengurus kelengkapan perizinan, seperti izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) yang diterbitkan Dinas Kesehatan setempat, sampai izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Meski izin PIRT atau BPOM bisa diurus belakangan, tapi, Zakin mengingatkan, ada hal yang tak boleh dikompromikan. Yakni, sisi higienitas produk, mengingat jamu menjadi produk yang dikonsumsi tubuh. Manufacturing process, lanjut Zakir, juga harus dijaga demi keamanan produk.

Pemenuhan izin dan beragam persayaratan sendiri, sudah dilakukan oleh Suyanto secara bertahap. Pada tahun ketiga usahanya berjalan, Asri Food sudah mengurus izin PIRT, dibantu oleh Dinas Perdagangan Kabupaten Jombang.

Setelah pasar lebih terbuka, Asri Food kemudian mulai mengajukan paten. Dengan proses 2 tahun, kini Asri Food sudah mengantongi paten. Sertifikasi halal juga sudah dimiliki Asri Food untuk delapan varian rasa yang dimiliki, yakni jahe merah, jahe emprit, kunyit putih, kunyit, temu ireng, temulawak, kencur dan jatekun alias jahe-temulawak-kecur.

Begitu pula dengan uji nutrisi yang sudah dilakoni Asri Food. Lagi-lagi, Dinas Perdagangan Jombang memfasilitasi langkah ini.

Selanjutnya, kata Zakir, seiring pertumbuhan bisnis, pelaku juga diminta menjalankan bisnis dengan prinsip akuntansi, seperti mulai menghitung depresiasi aset, mencatat dan memisahkannya dengan keuangan keluarga. “Kalau semua mulai dari awal, nggak mulai-mulai nanti,” kata Zakir.

Ia menyebutkan, agar bisnis bisa dijalankan dengan lancar, pelaku usaha harus memperhatikan dua faktor, yakni produk dan pasar.

“Dari pasar itu, baru kita kembangkan strategi marketingnya. Siapa segmennya, bagiamana positioning, pricing. Hingga metode promosi seperti apakah akan melalui media sosial, atau e- commerce,” imbuhnya.

Jejaring, sebut Zakir, juga menjadi poin penting dalam marketing. Ia menyarankan pelaku usaha untuk memanfaatkan jejaring yang dimiliki untuk melebarkan bisnis.

“Jadi bisnis berbasis komunitas. Sekarangkan banyak WA grup sekolah, atau alumni. Itu bisa didorong jadi sebuah gerakan #belidariteman. Itu lumayan efektif, bisa membuat usaha bergerak,” tandasnya.

Jadi, siap berkeringat untuk menjajakan ramuan berkhasiat? Toh, di tengah ancaman pandemi yang makin berat, bisnis ini terbukti bisa jadi penyelamat. []

Advertisement
Advertisement