July 20, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Daun Kratom dan Efeknya yang Lebih memabukan Ketimbang Morfin

2 min read

JAKARTA – Dari zaman dulu, Indonesia dikenal luas sebagai penghasil rempah dan berbagai tanaman budidaya lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tidak hanya itu, tanaman herbal khas Indonesia ini memiliki manfaat kesehatan yang cukup tinggi, mulai dari untuk menyembuhkan penyakit, mencegah kanker, dan memelihara kesehatan seseorang. Salah satu jenis tumbuhan yang belakangan banyak dibicarakan adalah tumbuhan daun kratom.

Adapun Daun kratom sebenarnya tidak hanya ditemukan di Indonesia, tanaman dengan nama ilmiah Mitragyna speciosa ini juga dapat ditemukan di Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Asia Selatan. Meskipun dikenal memiliki manfaat, tetapi belakangan Healthline menyatakan bahwa tanaman ini belum disetujui penggunaannya secara medis. Kira-kira apa alasannya? Mari simak jawabannya melalui uraian di bawah ini!

Di Indonesia, daun kratom berasal dari pohon cemara tropis di keluarga kopi yang tumbuh dengan subur di Kalimantan. Tidak hanya dapat dijadikan sebagai stimulan dan obat penenang, beberapa orang meyakini bahwa tanaman ini efektif untuk mengatasi sakit kronis, masalah pencernaan, dan sebagai obat untuk menghilangkan ketergantungan opium.

Walau banyak manfaatnya, di Indonesia tanaman obat ini masuk dalam kategori psikotropika golongan satu, seperti halnya heroin dan kokain. Mereka yang terbukti menyalahgunakannya menjadi narkoba mendapatkan hukuman penjara maksimal 20 tahun.

Badan Narkotika Nasional (BNN) belakangan dilaporkan tengah mengajukan tanaman ini ke Kementerian Kesehatan untuk menaikkan klasifikasinya sebagai narkoba golongan satu. Hal ini karena ternyata kratom lebih berbahaya dari yang dikira. Ia sepuluh kali lipat lebih berbahaya dibandingkan kokain atau marijuana.

Melansir South China Morning Post pada 10 Oktober 2019, Badan Pengawasan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat mendapatkan laporan bahwa lebih dari 130 orang meninggal setiap hari akibat overdosis opioid. Salah satu kasusnya pernah terjadi di Florida, yang mana seorang perawat ditangkap karena pasiennya meninggal di mobilnya. Saat diinvestigasi, ditemukan pasien tersebut tertidur setelah mengonsumsi dua bungkus bubuk kratom.

 

Kratom Dianggap Lebih Berbahaya dari Morfin

Jika digunakan dalam takaran yang rendah, kratom bekerja seperti stimulan. Orang yang telah menggunakan kratom dengan dosis rendah mengaku merasa lebih berenergi, lebih waspada, dan lebih mudah bersosialisasi. Sementara pada dosis yang lebih tinggi, kratom bermanfaat untuk sebagai obat penenang, ia menghasilkan efek euforia, emosi yang menumpuk, serta sensasi tertentu.

Di dalam kratom terkandung alkaloid mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, yang terbukti bahwa jenis alkaloid ini memiliki efek analgesik (menghilangkan rasa sakit), anti-inflamasi, atau relaksasi otot.

Menurut Pusat Pemantauan Obat dan Kecanduan Narkoba Eropa (EMCDDA), kratom dengan dosis kecil menghasilkan efek stimulan yang biasanya terjadi 10 menit setelah pemakaian dan dapat bertahan hingga 1,5 jam. Sementara Adhi Prawoto selaku sekretaris BNN menyatakan bahwa penggunaan kratom dalam jumlah kecil bersifat stimulan atau sama seperti kokain, namun penggunaan jenis besar bersifat opioid atau sama seperti morfin heroin. Oleh karena itu, BNN terus mendorong pemerintah untuk melarang peredaran tanaman kratom.

Adapun penelitian mengenai kandungan dan manfaat daun kratom sendiri belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, kratom belum secara resmi direkomendasikan untuk penggunaan medis. Studi mendalam penting untuk dilakukan demi pengembangan pengobatan. Studi pada kratom ini meliputi identifikasi efek berbahaya dan interaksi berbahaya dengan obat lain, serta mengidentifikasi dosis yang efektif agar tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya. []

Advertisement
Advertisement