September 18, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Derita Pariyem, Loncat dari Lantai Dua Rumah Majikan, Kelaparan, Enam Tahun Gaji Tidak Dibayar

4 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

PROBOLINGGO – Tidak selalu bernasib mujur dan sejahtera, meskipun seorang PRT bekerja di seorang majikan yang kaya raya, pun sebaliknya, tidak selalu sengsara dan menderita, saat seorang PRT bekerja di majikan yang biasa-biasa saja.

Seperti yang dialami Pariyem (44), seorang pekerja rumah tangga yang terpaksa melompat dari lantai dua rumah majikannya pada Selasa (16/02/2021) dini hari kemarin.

Dihadapan aparat dan awak media, Pariyem mengaku kelaparan, sedangkan rumah majikannya yang megah di Jalan Ir Juanda, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo tersebut dikunci. Kini dia bisa menghirup bernapas lega, setelah 6 tahun tidak bisa keluar dari rumah majikannya. PRT mengaku sudah bertahun-tahun tidak menerima gaji.

Perempuan beranak satu in, kini tinggal di rumah Chandra anak tirinya, di jalan Panglima Sudirman, Gang Priksan, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Perempuan kelahiran Surakarta (Solo) Jawa Tengah ini, kabur dari rumah majikannya, Selasa (16/02/21) sekitar pukul 02.00 dini hari.

Pariyem melarikan diri dengan cara turun dari lantai 2, lokasi kamar tidurnya. Alasannya, karena seluruh pintu rumah di Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Mayangan tersebut terkunci.

Pelariannya diketahui warga dan Pariyem diamankan. Ia kemudian dipertemukan dengan keluarga majikannya disaksikan tiga pilar. Yakni, perangkat kelurahan setempat, Babinkamtibmas dan Babinsa setempat.

“Akhirnya kami diantar ke sini. Ini rumah anak tiri. Saya enggak punya rumah,” kata Pariyem, Selasa (16/02/21) sore.

Menunggu Kepastian Hukum Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Pariyem berterus terang, selama 6 tahun bekerja sebagai ART di rumah pasangan suami istri MN dan Usman sejak tahun 2014 hingga sekarang, hanya sekali menerima uang dari MN, sebesar Rp500 ribu. Yakni, saat menjelang lebaran.

“Tapi tadi pagi sudah dibayar. Jumlahnya sekitar Rp 12 juta,” katanya. Selain itu, Pariyem sering mendapat umpatan kata-kata kasar dari majikan perempuannya dan jarang makan.

Meski lapar ia tahan, sebab kalau meminta ditampar oleh MN. Tak hanya soal makan, Pariyem yang tinggal bersama putrinya di rumah majikannya tersebut, sering dipukul, jika mengerjakan sesuatu tidak cocok.

Bahkan, putrinya itu pernah ditendang. Disamping itu bocah yang masih berusia 10 tahun tersebut tidak sekolah karena tidak ada yang mengantar.

Putrinya sempat mengenyam pendidikan 2 tahun, setelah itu berhenti. “Sekolah sampai kelas 2 di SDN Kanigaran. Awalnya diantar majikan perempuan. Terus tidak diantar,” katanya.

Karena tidak ada yang mengantar, kemudian putrinya berhenti alias tidak bersekolah. Pariyem tidak bisa mengantar anaknya ke sekolah karena tidak boleh keluar rumah.

Ditambahkan, selama bekerja di rumah MN, kebutuhan makannya dicukupi Usman suami MN berikut anak-anaknya. “Saya bisa bertahan hidup karena diberi makan bapak sama anak-anaknya. Mereka baik. Tapi memberi dengan cara sembunyi-sembunyi. Kalau pas tidak ada juragan perempuan,” ungkapnya.

Chandra Hidayat (30) anak tiri Pariyem kecewa dan prihatan dengan perlakuan MN yang memperlakukan ibu tirinya seperti itu. Meski begitu, ia menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut ke Pariyem.

Derita PRT yang Perlindungannya Terabaikan

“Kalau saya sih tergantung ibu. Kalau tidak menuntut, ya tidak masalah. Kan gajinya sudah dibayar, jumlahnya Rp 12, 6 juta. Mau gimana lagi, pak Usman sudah meminta maaf ke kami,” katanya.

Dijelaskan, sejak 2014 hingga sekarang Chandra tidak pernah bertemu dengan Pariyem, sehingga ia tidak tahu kabar dan keberadaan ibu tirinya.

Pariyem, lanjutnya tahun itu dibawa Slamet, warga Kebonsari Kulon untuk dinikahi. “Saya izinkan karena niatnya baik. Sejak itu tidak ada kabar. Tahunya setelah kejadian tadi malam. Saya dikasih tahu Pak RW sini, lalu meluncur ke Tisnonegaran. Terus ibu saya bawa ke sini,” katanya.

Diceritakan, Pariyem awalnya istri Hasan Suparman orang tua Chandra. Kemudian tahun 2013, Hasan Suparman meninggal dunia dan setahun kemudian, ibu tirinya dibawa Slamet untuk dinikahi.

“Saudara saya 4 orang dengan ibu pertama (Suryati). Kalau bapak dengan Pariyem punya anak satu. Ya, bocah ini anaknya. Dengan saya satu bapak, beda ibu,” katanya.

Meski ibu tiri, Chandra berharap Pariyem tinggal bersamanya. Ia akan tetap merawat ibu tiri dan putrinya. Terutama soal pendidikan anak Pariyem.

“Harus kumpul dengan kami. Sekolahnya nanti saya urusi. Ya, dia harus sekolah lagi,” pungkasnya.

Terpisah Usman suami MN mengklarifikasi pernyataan Pariyem. Menurutnya, persoalan makan tidak ada masalah, karena pihaknya telah memenuhi kebutuhan makanan anak ibu tersebut tiga kali dalam sehari. “Kalau ada kue, kadang juga dia kami beri,” ujarnya.

Tentang gaji, Usman mengatakan sudah klir tidak ada masalah. Pihaknya sudah membayar seluruh gaji Pariyem, selama bekerja di rumahnya.

“Gajinya saya tabung dan tadi pagi sudah kami tarik. Sudah saya

berikan. Dia sudah bikin pernyataan tidak akan mempersoalkan permasalahan ini. Sudah kami selesaikan secara kekeluargaan,” pungkasnya.

Galaknya “Tongkat India”, Menolak Memanjakan Tongkat Anak Majikan, Seorang PRT Dibakar Hingga Meninggal Dunia

Plt Polsek Mayangan, Polres Probolinggo Kota AKP Suharsono mengatakan persoalan sudah diselesaikan secara damai, termasuk gaji selama menjadi PRT sudah dibayar.

“Disaksikan tiga pilar, pihak kelurahan, Babinkamtibmas dan Babinsa,” katanya.

Disebutkan, Pariyem bekerja ke penghuni rumah tahun 2015 dan tinggal di rumah tersebut bersama putrinya yang berusia 10 tahun. Pada Selasa dini hari, Pariyem turun dari lantai dua menuju lantai pertama, kemudian menuju ke jalan untuk mencari makanan.

“Dia bilang ke warga mau cari makanan karena lapar. Lalu oleh warga diantar ke rumah majikannya untuk meminta pertanggungjawaban. Permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan damai. Sudah saling memaafkan,” pungkasnya.[]

Sumber Faktual

 

Advertisement
Advertisement