April 14, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Pensiun Menjadi PMI Bikin Usaha Kripik Tempe, Eh, Ternyata Cuannya Tidak Sepele

2 min read

JAKARTA – Usaha keripik tempe sagu di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan perkembangan yang kian menjanjikan sebagai produk UMKM unggulan sekaligus oleh-oleh khas daerah.

Cita rasa gurih dan tekstur renyah membuat camilan ini tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga mulai menjangkau konsumen dari berbagai daerah di Indonesia. Popularitasnya pun turut mendorong geliat ekonomi masyarakat setempat.

Salah satu sentra produksi keripik tempe sagu berada di Dusun Sungapan, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Dari wilayah ini, lahir kisah inspiratif Supardi, pemilik usaha Keripik Satu Fito.

Pria berusia 52 tahun tersebut memutuskan kembali ke kampung halaman pada 2012 setelah bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Ia kemudian merintis usaha dari skala rumahan yang kini berkembang pesat.

“Awalnya kita coba peyek, kemudian berkembang kita merintis tempe sagu, rupanya lebih bagus pasarnya, dan berkembang hingga sekarang,” tutur Supardi saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4/2026).

Perjalanan usaha yang dirintisnya tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat mengalami berbagai kendala, termasuk saat pandemi yang membuat pemasaran menjadi sulit. Namun, ketekunan dan konsistensi membuat usahanya tetap bertahan dan perlahan berkembang.

“Sempat jatuh bangun kita, alhamdulillah dapat bertahan, bahkan saat pandemi kita hampir susah memasarkan, tetapi bertahan dan akhirnya usaha ini mulai berkembang sedikit-sedikit meningkat.” ujarnya.

Supardi menjelaskan, bahan baku yang digunakan relatif mudah diperoleh karena lebih mengandalkan kedelai lokal, sehingga tidak terlalu terdampak fluktuasi harga global.

Seiring perkembangan usaha, ia mulai merekrut tenaga kerja dari masyarakat sekitar, termasuk sesama mantan TKI. Langkah ini turut membantu meningkatkan perekonomian warga setempat.

“Tadinya hanya kita kerjakan sendiri, ya semampunya, kemudian berkembang, kita rekrut karyawan dari masyarakat sekitar, ada juga yang mantan TKI juga seperti saya,” kata Supardi.

Keripik tempe sagu produksinya kini dikenal luas dan menjadi salah satu produk ekonomi kreatif unggulan di Bantul. Bahkan, camilan ini cukup populer di kalangan wisatawan sebagai buah tangan khas daerah.

Salah satu pembeli, Asyifa asal Jawa Barat, mengaku terkesan dengan cita rasa produk tersebut. “Rasanya gurih, renyah, dan khas banget, belum pernah yang seperti ini saya jumpai, ini saya beli banyak buat oleh-oleh nanti,” ungkapnya.

Dalam kondisi normal, Supardi mampu memproduksi sekitar 60 kilogram keripik per hari. Saat akhir pekan atau musim liburan, jumlah produksi meningkat hingga 80–90 kilogram per hari.

Peningkatan produksi tersebut berdampak pada omzet yang diraih. Jika rata-rata pendapatan harian mencapai Rp 1,5 juta, maka dalam sebulan omzetnya bisa menembus sekitar Rp 65 juta.

Dengan semangat pantang menyerah dan inovasi yang terus dilakukan, Supardi membuktikan bahwa usaha kecil dapat berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan, sekaligus menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk berwirausaha di kampung halaman. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply