November 30, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Merawat Mimpi, Merajut Asa Anak-Anak yang Tak Punya Pilihan

5 min read
Prime Banner

PASURUAN – Anak-anak tidak membutuhkan banyak hal. Pemberian terbaik untuknya adalah kasih sayang, biarpun mereka tak pernah tahu akar keluarganya.

“………MALAM-malam kadang saya menangis. Mereka ini tidak pernah merasakan kehangatan selimut orang tua……”

Penggalan kalimat itu meluncur dari bibir pengasuh Pondok Pesantren Metal Al-hidayah, Gus Nurkholis saat ditemui di kediamannya di komplek pondok, Desa Rejoso Lor, Kabupaten Pasuruan, Minggu (18/20/2020).

Nada bicaranya lirih. Sorot matanya lurus ke depan. Melalui pintu rumah yang terbuka lebar, ia menerawang ke arah bocah-bocah yang tengah asyik bermain di sudut halaman.

Jumlah mereka cukup banyak, 10 hingga 15 bocah. Dari penampakannya, usia mereka seumuran. Antara 3-5 tahun. “Ndak tahu,” ujar seorang bocah saat ditanya usianya sembari menggelengkan kepala.

Sejatinya, menanyakan usia kepada bocah-bocah ini bisa jadi merupakan hal paling absurd. Betapa tidak. Siapa orang tuanya dan darimana asalnya saja, mereka tak pernah tahu. Mereka tak pernah tahu “akar” mereka.

Tetapi, di pesantren ini, anak-anak itu setidaknya menemukan keluarga besarnya. Di pesantren ini pula mereka memiliki banyak teman untuk belajar, bermain dan gembira ria bersama.

Ditemani dua santri senior, bocah-bocah itu terlihat begitu menikmati waktu bermain. Mereka saling berlarian disertai tawa-tawa kecil. Ada pula yang tampak belajar memanjat pohon.

Bagi bocah-bocah ini, Minggu sore adalah waktu yang paling leluasa bagi mereka untuk bermain. Itu karena di akhir pekan, jadwal mengaji relatif kosong karena banyak pendidik yang libur.

“Senin sampai Sabtu biasanya mengaji. Kalau minggu begini ustadnya libur. Ada jadwal mengaji untuk malam hari,” ujar Abdullah, salah satu santri senior di sela mengawasi adik-adiknya bermain.

Abdullah sendiri sudah 15 tahun berada di pondok ini. Masa yang sama dengan usianya saat ini. “Ya dari kecil saya sudah disini,” ungkapnya sembari tersenyum.

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul setengah empat sore. Jam bermain bocah-bocah itu pun berakhir. Oleh pendamping, mereka kemudian diminta menanggalkan pakaiannnya, lalu berkumpul; saatnya mandi.

Sebuah pemandangan menyayat hati yang jarang ditemui di pesantren-pesantren pada umumnya. Karena belum bisa mandi sendiri, bocah-bocah itu lantas diminta berbaris. Berbekal air di ember serta gayung, pendamping memandikan mereka satu per satu.

Semua proses itu berlangsung tertib. Tak ada yang rewel atau merengek laiknya bocah ketika dimandikan. Bahkan, ketika selesai pun, mereka tetap berjalan rapi menuju kamar untuk berganti pakaian.

Tak seperti pesantren kebanyakan, lembaga yang berada di pinggir Jalur Pantura ini memang tergolong unik. Berdiri tahun 1988 lalu, pesantren ini lebih banyak menampung santri ‘bermasalah’.

Selain mantan narapidana dan pengguna narkoba, sebagian santri merupakan bocah-bocah dari kelahiran yang tidak diinginkan . Ada yang dari hasil hubungan gelap (diluar nikah) atau dari wanita dengan gangguan jiwa bahkan yang kehilangan akal.

Khusus untuk wanita dengan gangguan jiwa yang ditemukan dalam keadaan mengandung. Mereka akan dibawa ke ponpes untuk dirawat hingga saat bersalin tiba. Bocah-bocah yang sebelumnya asyik bermain adalah sebagian dari mereka.

Pengasuh pesantren Gus Nurkholis mengungkapkan, bocah-bocah itu bukan hanya berasal dari wilayah Pasuruan. Tapi, juga daerah lain di Indonesia. “Macam-macam. Ada yang kami temukan, dibuang orang tuanya,” terang Gus Nur, sapaannya.

Karena berasal dari latar belakang berbeda, para santri yang totalnya berjumlah 130 orang itu tinggal di asrama berbeda. Mereka menempati bangunan asrama yang tersebar di area pondok seluas 13 hektare ini.

Di bagian depan, tepat di sebelah kiri pintu gerbang adalah khusus untuk santri dengan gangguan jiwa, eks pecandu narkoba, serta santri lain pada umumnya. Sementara di sisi selatan, khusus untuk bocah-bocah yang ditampung sejak bayi. Sedang di sisi barat, tepat di belakang bangunan sekolah dasar (SD) untuk santri perempuan.

Di asrama santri perempuan ini pula bayi-bayi yang diadopsi biasanya dirawat. Kebetulan, komplek asrama perempuan juga lebih dekat dengan kediaman pengasuh. Balita yang sudah memasuki usia 1 tahun keatas (sudah berjalan), mereka dikumpulkan dengan bocah-bocah lain yang seumuran.

Soal administrasi kependudukan, sejauh ini tidak menjadi soal. Bocah-bocah itu, pada akhirnya menjadi keluarga pengasuh. Itulah sebabnya jumlah anggota keluarga yang tercatat di KK pengasuh mencapai 130 orang.

“KK (kartu keluarga) saya sampai 13 halaman. Ya bagaimana wong mereka tidak punya keluarga. Mereka kan tidak pernah tahu siapa kakek neneknya. Yang mereka tahu hanya abinya, ya saya ini abinya. Mereka itu anak-anak saya,” jelas Gus Nurkholis.

Sejak awal berdiri, pondok yang ada di selatan jalan itu memang menasbihkan diri pada kemanusiaan dan cinta kasih. Gagasan itu yang kemudian diwujudkan dengan mendidik santri-santri ‘yang tak biasa’.

Bukan hanya bayi-bayi yang tak diinginkan. Tapi, termasuk juga gelandangan, orang dengan gangguan jiwa, eks pecandu narkoba, hingga mantan wanita pekerja seks (WPS).

Di pesantren ini, para santri tidak hanya bisa menimba ilmu agama, mengaji dan menghafal al-Quran hingga belajar ilmu tasawwuf. Tetapi, berkesempatan menambah pengetahuan umum dan juga keterampilan. Seperti beternak atau bercocok tanam.

Bagi Gus Nurkholis, pengetahuan akan pertanian dan peternakan diperlukan sebagai bekal para santri tatkala sudah keluar nanti. Sehingga, mereka tidak hanya mafhum di bidang agama, tapi juga memiliki kecakapan dan keterampilan (life skill).

Untuk menjalankan program itu, pihak pesantren mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan. Salah satunya, Pertamina melalui anak perusahaannya Pertamina Gas (Pertagas).

Head of External Relation East Region, Tedi Abadi Yanto mengatakan, apa yang dilakukan Ponpes Metal dengan mendidik santri dari berbagai latar belakang adalah hal baik yang layak diapresiasi.

“Inilah yang kemudian membuat kami masuk untuk terlibat dalam kegiatan di ponpes,” katanya saat dihubungi melalui aplikasi percakapan, Selasa (20/10/2020).

Tedi mengemukakan, awal terlibat di tahun 2017, program CSR saat itu hanya fokus pada urusan pendidikan. Dimana, kegiatan yang dilaksanakan dimaksudkan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan belajar santri agar lebih maksimal.

“Beberapa program kami wujudkan dalam bentuk pemberian alat-alat tulis, perbaikan sarana dan prasarana,” terang Tedi.

Di tahun berikutnya, pihaknya mulai menambah cakupan program pada bidang kesehatan. Ini dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala, pemberian vitamin, hingga pemberian makanan tambahan berupa susu.

Kemudian, pada 2019, Pertagas kembali memperluas cakupan program untuk pemberdayaan yang diwujudkan dalam bentuk peternakan ayam dan lele. “Harapannya, itu sekaligus menjadi media pembelajaran bagi para santri disana,” ujarnya.

Saat media ini kesana Minggu (18/10/2020) lalu, kandang peternakan memenuhi sisi timur halaman pondok berderet ke selatan. Masih ada sisa lahan yang kabarnya juga akan dibangun kandang ternak lagi.

Dikatakan Tedi, keberadaan Ponpes Metal dinilai cukup unik. Selain fokus pada pengajaran ilmu-ilmu agama, pesantren ini juga banyak menampung santri dari berbagai latar belakang. Seperti gelandangan, orang gila, hingga bayi yang tak inginkan.

Dengan kondisi seperti itu, strategi pendidikan yang diterapkan pesantren tentu berbeda. “Inilah yang coba kami dukung melalui program-program berkelanjutan,” ungkap Tedi.

Sejalan dengan semangat sustainable development CSR Pertagas, tahun ini pun sejatinya program-program yang telah berjalan tetap dilanjutkan. Akan tetapi, pandemi yang terjadi menjadi kendala karena keterbatasan akses.

Namun begitu, untuk memastikan keberlanjutan program tersebut, Tedi menyatakan akan segera menjalin komunikasi dengan pihak pesantren. “Dengan segala keterbatasannya, apa yang dilakukan pondok Metal adalah hal baik yang selayaknya didukung demi keberlanjutan pendidikan disana,” ujarnya.

Ya, Ponpes Metal adalah satu dari sekian banyak pesantren di Indonesia yang punya cara tersendiri untuk berkontribusi. Kendati sedikit berbeda dengan pesantren kebanyakan, penghormatannya pada kemanusiaan, kesetaraan, serta cinta kasih sesama akan mampu menginspirasi sesama. Dan pada akhirnya para santri yang tadinya tidak pernah mengenal “akar”nya bisa memberi sumbangsih pada negeri berkat keikhlasan para pembimbing di pesantren. []

Penulis Asad Asnawi

Advertisement